PERJALANAN DI SUNGAI MAHAKAM TAHUN 2000
PERJALANAN DI SUNGAI MAHAKAM
Saat itu tahun 2000, saya bertugas di kantor pusat di Direktorat Pembiayaan Anggaran III (Disingkat Dit PA III). Pada suatu hari saya di panggil oleh Direktur, Ada undangan menyangkut Usulan BPKP untuk dinaikan besaran tunjangan kegiatan nya.
Setiap usulan yang akan mengakibatkan adanya pengeluaran negara, biasanya harus di usulkan oleh Eselon I dari instansi terkait, di bahas oleh kementrian Keuangan, Bappenas, dan instansi terkait (Sekarang dengan Mitra Kerja di DPR). Pembahasan tersebut biasanya minta bukti bukti autentik yang akan mendukung usulan tersebut untuk dapat di setujui oleh Kementrian Keuangan.
Undangan tersebut dikirim oleh Pimpinan BPKP, kepada Kemenkeu, yang isinya menyatakan bahwa tugas AUDIT oleh BPKP pada proyek proyek Pembangunan Pemerintah adalah berat karena banyak diantara proyek tersebut berada di pedalaman, selain itu juga tugas audit BPKP tersebut penuh risiko.
Kepala BPKP ingin mengajak pihak Kemenkeu untuk bisa jalan bersama ke suatu lokasi yang ada proyek pemerintah yg harus di Audit oleh BPKP untuk membuktikan bahwa perjalanan tersebut memang betul betul berat, dan penuh risiko, sehingga patut di berikan tunjangan perjalanan yang lebih besar.
Tahun 2000 di Kemenkeu belum ada reorganisasi. Direktorat Jenderal Anggaran belum dipecah menjadi dua bagian (bagian perencanaan dan bagian Pelaksanaan). Karena di Kemenkeu yang menangangi penganggaran adalah Direktur Jendera Anggaran, maka sebetulnya undangan tersebut mengharapkan agar pak Direktur Jenderal sendiri yang bisa ikut dalam perjalanan membuktikan , namun karena beliau sibuk, maka tugas itu dilimpahkan kepada Direktur, dan karena pak Direktur juga sibuk, maka pagi itu saya yang saat itu adalah eselon III (kepala Subdit) di panggil utk diminta kesediaan nya mewakili Direktur Jenderal/Direktur PA III, untuk mengikuti perjalanan tersebut.
Karena sifat nya adalah tugas, maka saya iyakan untuk pergi ke Kalimantan Timur, walaupun menurut hemat saya tugas tersebut sebetulnya lebih cocok di laksanakan oleh Subdit yang lain. Tapi karena Kasubdit yang berkenan juga sedang cuti, dan saat itu subdit tempat saya bertugas sedang senggang , apalagi saya pun sangat suka untuk bertualang ke daerah daerah, maka saya terima tugas yang diembankan kepada saya tersebut.
Keesokan hari nya saya sdh berada di Pesawat terbang tujuan Balikpapan. Bersama saya ada beberapa orang BPKP dan petugas dari Bappenas, serta seorang Eselon II dari Kementrian Kehutanan. Mengapa ada perwakilan dari Kementrian Kehutanan, akan di terangkan pada saat nya..
Beruntung kami sempat menginap dulu di Tenggarong sebelum bertemu dengan bpk Bupati Tenggarong keesokan hari nya. Malam itu saya sempatkan pergi ke pasar untuk membeli kamera pocket murahan.. karena saya lupa bawa kamera dari Jakarta. Sungguh rugi kalau tidak ada dokumentasi apa apa selama melakukan perjalanan ini. Selain membeli kamera saya juga melengkapi dengan beberapa rol film. Terserah berapa jepretan yang dapat saya gunakan, urusah cuci cetak belakangan lah.. yang penting jepret jepret dulu..
Keesokan hari nya, pagi pagi kami bertemu dengan Bupati Tenggarong di Kantor nya. Rupanya sudah ada pembicaraan dari kantor Pusat dengan pak Bupati, karena tanpa harus diterangkan, beliau sudah mengerti maksud dan tujuan kami datang ke kantor nya. Beliau mengatakan bahwa kami akan di pinjamkan gratis dua buah speed boat milik Pemda Tenggarong, untuk berangkat ke sebuah desa Transmigrasi di pedalaman Kalimantan Timur bernama desa Long Bagun.
Menurut petugas BPKP desa Long Bagun masih termasuk desa yang tak terlalu jauh yang harus di kunjungi oleh Petugas BPKP untuk melakukan Audit. Dan saat itu, transportasi ke proyek proyek tersebut hanya dapat dilakukan dengan Bus-Air melalui sungai.
Masih ada lagi desa desa atau proyek proyek pemerintah pusat yang letaknya lebih di pedalaman, lebih banyak resiko, baik phisik maupun psychis (guna guna / santet). Kalau ternyata kami meyakini kunjungan ke desa Long Bagun terasa berat, maka usulan BPKP untuk menerima tunjangan yang lebih besar, akan mendapat respon positif dari Menteri Keuangan.
Seingat saya, kami tak lama berbincang dengan pak Bupati karena Beliau juga punya banyak acara, satu hal yang saya ingat mengenai Pak Bupati adalah keramahan nya dan pakaian nya yang wangi sekali. Jam 9 pagi Pak Bupati mengantarkan sendiri kami ke dermaga Speed Boat yang letaknya di halaman kantor Bupati (dipinggir sungai Mahakam dua buah speed boat berwarna orange milik Pemda Kabupaten Kutai Kertanegara telah siap untuk segera berangkat. Tak lama kemudian, berangkatlah kami dibawah lambaian tangan pak Bupati..

Speed Boat tersebut termasuk baru, di lengkapi dengan dua mesin YAMAHA dibelakang perahu. Masing masing mesin ada tulisan 250 (mungkin maksud nya 250 cc ya). Terbuat dari FIBER berwarna jingga dan ada atap nya untuk menahan terik matahari, juga terbuat dari bahan Fiber, diujung belakang perahu ada atap tambahan terbuat dari terpal yang bisa dilipat kalau hari sudah sore.
Saya duduk bersama seorang petugas dari BPKP, seorang dari Bappenas, dan Pejabat Es II dari Kehutanan dalam satu Speed Boat (plus satu orang Pengemudi), Peserta lain nya duduk di speed boat yang satu lagi. Kedua speed boat tersebut langsung saja tancap gas membelah sungai dengan kecepatan tinggi.
Saya tanya kepada pengemudi Speed Boat, dan mendapat jawaban bahwa perjalanan ke Long Bagun, butuh 3 hari dengan Speed Boat. Si Pengemudi bilang, “Nanti malam, kita terpaksa nginap di Melak Pak, dan besok malam kita menginap di Mamahak”. Petugas dari BPKP langsung menimpali, “Naah betul kan Pak, tiga hari perjalanan dengan speed Boat, padahal petugas kami hanya bisa naik BUS AIR dalam melakukan tugas AUDIT ke proyek proyek di pedalaman Kalimantan, untuk bisa mencapai Long Bagun dibutuhkan 8 - 9 hari perjalanan dengan Bus Air”.
Belakangan hari (nowadays ketika saya mengetik tulisan ini) saya sempatkan buka Google, Setelah saya melihat peta yang ada di Google, ternyata Tenggarong ke Melak berjarak 330 km. Saat ini karena sudah bisa ditempuh melalui kendaraan darat maka lama perjalanan dari Tenggarong ke Melak bisa ditempuh selama 4 - 5 jam. Lalu dari Melak ke Long Bagun melalui sungai yang berkelok kelok jaraknya kurang lebih 2x perjalanan Tenggarong – Melak. Jadi total jarak dari Tenggarong ke Long Bagun menurut jarak hitungan sungai bisa mencapai 800 – 850 km. Dengan perkiraan spt itu, maka perhitungan saya saat ini kalau kita naik kendaraan darat dari Tenggarong ke Long Bagun, yaaa kira kira 11 - 14 jam. Bandingkan dengan saat itu naik speed boat harus memakan waktu 3 hari dari Tenggarong ke Long Bagun.
Menurut pengemudi Speed Boat, ada satu daerah antara Melak dan Long Bagun, yang sungai nya ber batu batu.. kalau lagi musim kering, tak dapat di lalui oleh perahu.. sehingga terpaksa perahu nya di gotong untuk bisa mencapai bagian sungai yang sudah tidak ada batu batu nya lagi.
Perjalanan yang saya ikuti tersebut dilaksanakan tahun 2000.. wah berarti saya tidak bisa berhubungan dengan keluarga di Jakarta selama sepuluh hari.. Memang saat itu sudah ada Hand Phone, tapi tidak ada jaringan yang mencapai pedalaman Kalimantan timur.
Saya tanya kepada pengemudi, “Pak, kalau sms tidak bisa berfungsi, bagaimana kalian berkomunikasi selama di perjalanan?” dia menjawab, “oo ada radio pak.. radio dua meteran, biasanya tiap tiap desa, tiap tiap petugas kehutanan selalu membawa radio CB (yang dikenal dengan nama dua meteran). Ada juga yang punya 11 meteran”. Mendengar jawaban tersebut dalam hati saya merasa lega. Dan memang rupanya kedatangan kami tersebut sudah tersebar di radio radio, biasa nya yang punya radio adalah Pengawas Kehutanan. Itulah sebabnya diantara kami ada pejabat dari kemenhut, dan karena nya di beberapa tempat, di sepanjang perjalanan di sungai Mahakam tersebut, saya lihat ada saja orang orang yang melambai tangan dari pinggir kepada kami. Sungai Mahakam adalah sungai yang cukup lebar (tapi kalah lebar dibanding sungai Barito), Dilihat dari panjangnya, sungai mahakam adalah yang terpanjang di Kalimantan.
Beberapa hal yang menarik perhatian saya selama dalam perjalanan tersebut adalah,
Pertama, Tak berbeda dengan lalulintas di darat, perjalanan di sungai pun ada rambu rambu lalulintas nya. Tanda bahwa sebentar lagi sungai akan belok arah bisa kita liat setiap saat. Mungkin berguna kalau melakukan perjalanan di malam hari yaa..
Kedua, Seringkali speedboat kami harus mengelak bila di depan ada bongkahan kayu yang mengapung mengarah ke kita. Terbayang di kepala saya kalau pengemudi meleng, bisa bisa speedboat dari fiber ini bisa pecah.
Ketiga , Bus Air. Saya selalu memperhatikan baik baik bila berpapasan atau bersisipan dengan Bus Air. Menurut hemat saya Bus Air itu layaknya disebut hotel berjalan. Orang yang berada di dalam bus Air, menebarkan tikar bahkan kasur, mereka bisa tidur2an.. bisa masak, bisa macam macam.. Diatas atap nya saya liat banyak orang bule duduk duduk berjemur sambil membawa kamera.. sebentar sebentar cekrek cekrek ada saja objek yang di foto nya. Bila kami menyusul bus Air, ombak yang ditimbulkan oleh Speed Boat, langsung menggoyangkan bus Air.. sampe ber ayun ayun.. Si Bule melambaikan tangan kepada kami.. Merasa kagum ada juga kendaraan secepat tersebut di kesunyian pedalaman sungai Mahakam. Melihat suasana seperti itu, saya jadi ingat film Appocalypse Now, yang dibintangi oleh Marlon Brando, kisah tentang pasukan AS yang desersi (menyimpang dari ketentuan pusat) membentuk kelompok sendiri dengan seorang pimpinan di tengah hutan Vietnam. Dalam film itu Marlon Brando lah yang menjadi pimpinan pasukan disersi tersebut.
Keempat, Kecepatan di Sungai berbeda dengan kecepatan di darat. Kecepatan di sungai (di Air) dihitung dengan ukuran KNOT. Sebuah Bus Air berjalan lambat sekali, mungkin Cuma 11 -12 knot per jam Dibanding dengan kecepatan speed boat yang bisa mencapai 27 knot per jam. Bila di bandingkan dengan kecepatan transportasi darat, maka 1 KNOT/menit = 1,852 km. Jadi kalau dikatakan kecepatan nya Cuma 11 KNOT per jam, berarti per jam bus air itu cuma bisa menempuh jarak yang setara dgn 25 Km perjalanan didarat. Sedangkan speed boat bisa 27 knot per jam setara dengan 55 km per jam perjalanan darat.
Kembali ke kisah perjalanan di Mahakam.
Jam 14 siang, kami berhenti untuk mengisi bahan bakar, dan di tempat itu kami sempat makan siang di sebuah warung pinggir sungai. Nama desa itu MELINTANG, disitu pula kami makan durian, yang dipetik langsung dari pohon nya..Kami hanya tinggal menunjuk buah ini.. buah itu yang tergantung di dahan pohon.. langsung ada yang ambil.. Tapi durian di situ ternyata tidak begitu manis.. menurut penduduk situ, durian kebanyakan dibikin tempoyak. Semacam dodol berwarna coklat. Cuma untuk ada harum duren saja rupanya.. sedangkan rasa nya tak begitu istimewa.
Mendekati Melak, matahari sudah hampir terbenam, saya masih ingat, masih bisa liat ada pusaran air di sungai. Pusaran air tersebut cukup besar dan dalam, saya berpikir kalau kita masuk kedalam pusaran itu, pasti akan mengalami kesulitan yang cukup berarti. Betul saja menurut pengemudi, kalau kita masuk kesitu, kita akan terseret kedalam air, dan tak akan muncul muncul lagi sampe beberapa hari.. Wouw.. Alhamdulillah kami masih di selamat kan..
Akhir nya lampu sorot di speedboat di nyalakan, karena hari sudah mulai gelap, kecepatan perahu mulai di turunkan, semua mata menatap kemana lampu sorot itu diarahkan. Ada pembantu supir yang duduk didepan, memegang lampu dan mengarahkan lampu sorot ke kiri ke kanan, ke depan, Dia akan berteriak bila ada bongkah kayu yang menuju kearah kita. Sangat berbahaya kalau kita meleng, apalagi kalau dia mengalir berlawanan dengan arah speedboat kita.. bisa jebol badan kapal yang terbuat dari FIBER.
Jam 19.15 kami tiba sebuah dermaga kayu di desa Melak.. Disitu kami sudah di sambut oleh kepala desa dan diantar kesebuah penginapan yang terdiri dari dua lantai terbuat dari kayu (mungkin itulah satu satu nya yang ada). Sang kepala desa menyampaikan kepada kami bahwa dia tadi sore menerima berita dari Radio dua meter dengan pesan agar segera disampaikan kepada Bapak yang dari Kemenhut.
Isi berita itu adalah bhw Bapak dari Kemenhut di harap pulang karena ada keluarga nya yang mengalami kecelakaan dalam perjalanan dari Jkt ke Bandung.. dilaporkan pula bahwa keadaan saudara nya pak Eselon II cukup menghawatirkan oleh karena nya diharap pulang.
Kepala Desa ternyata sigap.. setelah menerima berita dari radio 2 meteran tersebut, dia tidak menunggu kedatangan kami, namun sudah mempersiapkan kepulangan kami naik pesawat Twin Otter.
Oya, saya belum sampaikan informasi bahwa desa MELAK saat itu sudah mempunyai sebuah landasan pesawat yang hanya dapat di darati oleh pesawat kecil sejenis Twin Otter. Kebetulan esok hari nya adalah jadwal mampir di Melak. Pesawat Twin Otter bisa membawa penumpang sebanyak 11 orang.
Mendengar bahwa Bapak dari Kemenhut akan segera pulang keesokan hari ke dunia nyata.. saya koq merasa iri yaa. Dilain pihak saya juga mendengar bujukan dari petugas BPKP bahwa perjalanan sampai sampai ke Long Bagun pun sama seperti perjalanan yang kita lalui.. Cuma saja jarak nya masih dua kali lipat lagi.
Akhirnya saya putuskan bahwa saya besok akan ikut pulang ke Jakarta bersama Bapak Kemenhut (istilahnya "Ngawal" he he he ). Saya berani menjamin bahwa dengan sudah merasakan perjalanan dari Tenggarong ke Melak saja, saya bisa membuat laporan ke atasan mengenai pengalaman di sungai Mahakam sehari suntuk.
Demikian lah, setelah semalam tidur di Penginapan kayu di Desa MELAK, keesokan pagi nya saya ikut Twin Otter ke Balikpapan dan meneruskan ke Jakarta. .
Itulah kisah saya mengenai perjalanan di Sungai Mahakam pada tahun 2000. Usulan BPKP akhir nya dapat disetujui dan Tarif yang baru tersebut kemudian diberlakukan sebulan kemudian.
TAMAT.
Comments
Post a Comment