#2 PERJALANAN SEMARANG - YOGYAKARTA - SURABAYA
Kisah Perjalanan tahun 1974 Naik Sepeda Motor Saya masih ingat, agak siangan kami berangkat dari kost kost an Brother Bowo di Semarang.. Bukan nya langsung ke Surabaya, melainkan ke Yogyakarta dulu.. Gatot anggota perjalanan kami mengusulkan mampir ke Keluarga nya yang ada di Yogya. Karena maksud nya adalah mau minta peluru.. yaa oke oke saja saya setuju, dan yang lain pun setuju, Saya bilang, "Sekalian kita semua kan belum pernah lihat Candi borobudur dan Candi Prambanan". Perjalanan dari Semarang ke Yogyakarta tak berlangsung lama.. Jalanan masih sepi.. Ketika kami masih di atas motor di tengah perjalanan disekitar daerah Muntilan, ada beberapa kesempatan bagi kami melihat Borobudur dari kejauhan (pas jalan yang kami lalui tak tertutup oleh bangunan di pinggir jalan, atau karena tanah masih terbuka), sehingga dari atas motor yang kami naiki keliatan dari kejauhan candi borobudur.. Bagi yang belum pernah melihat Bangunan yang terkenal itu, pasti ada rasa haru.. Seperti waktu saya pertama kali melihat bangunan Kabbah yang sederhana berdiri megah di Mesjidil Haram Mekkah, saya bercucuran air mata.. "Oo ini toh bangunan yang bersejarah itu" kata saya didalam hati.. Saat itu Kiki lah yang belum pernah liat Borobudur.. Mungkin ada rasa haru muncul di dalam hati nya.. sehingga dia seperti tak sabar kepingin agar kami mampir dulu ke candi tersebut sebelum masuk kota Yogyakarta.. Tapi saya membujuk .. "Besok saja Ki, kita puas-puasin diri kita melihat candi tersebut seharian".. Akhir nya Kiki setuju, dan tak berapa lama kemudian, sampailah kami di Yogya.. Tak ada kesulitan memasuki kota Yogya, karena Gatot sudah sangat familiar dengan jalan jalan di kota Gudeg itu.. Kami menginap di rumah saudara Gatot. Malam pertama tidur di rumah saudara nya Gatot,kami tidur agak larut, karena baru berkenalan saja sudah enak ngobrol. Keesokan hari nya, agak jam 10an, sementara Gatot kasak kusuk ke para saudara2 nya yang lain, kami berempat pergi ke Borobudur. Seorang saudara nya Gatot bersedia menjadi guide mengantar kami ke Candi Borobudur. Saya ingat sekali tahun 1974 itu kami bisa naik sepeda motor mendekati candi.. bahkan sepeda motor tsb bisa kami sandarkan ke dinding candi.. Saya agak lupa, apakah ada orang berjualan di sekitar situ? tapi kayak nya tidak ada deh.. Segera saja motor kami sandarkan, dan kami berempat menaiki tangga candi sampai ke puncak nya. Sepi.. Sepiii sekali..Tidak ada pengunjung yang lain.. Mungkin sepi nya saat itu dikarenakan kedatangan kami ke Candi itu pada hari biasa (bukan hari sabtu minggu). Jadi rasanya saat itu Candi Borobudur yang terkenal dan megah itu memang hanya diperuntukkan bagi kami semata. Hari kedua di Yogya, kami tidak jadi ke Prambanan. Badan kami sudah terlalu lelah main di Candi Borobudur sehari sebelumnya.. Kami malah ke pasar Bering Harjo.. Wouw, ternyata di pasar itu saya ketemu makanan yang enak2.. Jajanan pasar macem macem.. Tapi yang paling berkesan adalah sate kikil.. Tahu kan Kikil itu apa?, Kikil adalah lapisan kulit kenyal yang melapisi lutut sapi. Nah lapisan lutut sapi yang kenyal kenyal itu dibakar (di Sate) dan diberi bumbu yang pas sekali dengan lidah saya. Sampe bertahun tahun kemudian saya selalu ngiler kalau mengingat pernah makan sate kikil pasar bering harjo. Saat itu belum ada kepikiran liat batik yang juga murah di pasar Bering Harjo, Boro boro liat batik wong kami aja bawa baju untuk di jual he ha.. Memang deh, kalo soal makanan, di Yogya adalah super murah..Makan gudeg yang di pikul sama si mbok mbok harga nya murah sekali, bisa separuh atau malahan sepertiga harga di Jakarta. padahal sudah pakai ayam separo, dan sudah pake kerecek.. Setiap pagi kami makan Gudeg, Setiap Siang makan Gudeg, setiap malam makan Gudeg.. Kebetulan kami seluruh anggota tour suka gudeg, atau cuma kepengen menghemat yaa ? he he he.. Satu kebiasaan orang jawa tengah yang saya catat dalam kepala saya ialah minum teh manis. Gelas berisi Teh Manis di jejerkan diatas bufet didekat meja makan.. seperti ada tulisan nya, ini gelas si A.. ini gelas si B.. dst.. dari pagi sampai sore gelas2 tersebut tetap ada di bufet tersebut.. Gelas yang di pakai si A adalah gelas nya sejak pagi.. Bagus juga idee nya ya.. supaya gak terlalu sering cuci gelas. Satu lagi yang saya ingat waktu di Yogya adalah, membaca koran kompas.. lah koq ada ramalan Jayabaya (Jangka Jayabaya) yang mengatakan bahwa tahun itu (1974) Pulau jawa akan terpecah jadi dua.. Laah.. Langsung saja saya jadi khawatir karena waktu meninggalkan adik adik saya di Jakarta memang sudah ada perasaan yang tidak enak.. Apakah saya bisa kembali ke Jakarta.. Apakah betulan pulau jawa terbelah jadi dua.. Apakah ada pergolakan politik sehingga saya yang sedang ada di jawa timur gak bisa kembali lagi ke jawa barat, kecuali pakai visa dan paspor.. Macem macem deh yang berkecamuk dalam pikiran saya. Tapi kami tetap melaksanakan perjalanan tujuan ke Bali.. apapun yang akan terjadi kami harus sampe ke Bali. Dalam Perjalanan dari Yogya ke Surabaya, badan kami sudah mulai agak lelah..Saya ingat ketika mendekati kota NGAWI, kami harus melewati jalan yang kena luapan air dari sungai Bengawan Solo. Untung saja hujan nya sudah berhenti, tapi rasanya lama kalau harus menunggu air selesai.. akhir nya kami terjang air yang mengalir di jalan raya.. Rasanya agak kliyengan juga mengendarai motor di atas air yang mengalir dari kiri ke kanan jalan.. Itulah kenangan yang paling berarti dalam perjalanan tersebut. Setelah itu, saya ingat bahwa kami sdh terlalu lelah, sehingga beberapa kali kami berhenti beristirahat.. Bahkan ketika sudah hampir tiba di Surabaya, di pinggiran kota surabaya di satu tempat yang bernama Krian (waktu itu masih sepi sekali), kami berhenti agak lama, padahal sebetulnya kami sudah punya alamat yang dituju di Surabaya, yaitu seorang teman bernama Rahman. Saya berkenalan dengan Rahman ketika mobil ibu saya merk VW harus turun mesin, dan seorang paman saya mereferensikan Rahman yang konon adalah seorang bekas montir di PT PIOLA (agen VW di Jakarta). Rahman tinggal di rumah kakak nya di belakang Bioskop Mayestik Kebayoran baru.. Menurut Paman saya, setiap saat kita perlu Rahman, kita bisa telepon kakak nya, dan pasti Rahman akan sediakan waktu untuk mengerjakan nya di rumah.. Rumah orang tua saya saat itu juga didekat bioskop Mayestik, tepat nya di Sebelah kantor pos, berseberangan depan Taman Puring (Kisah ketika kami tinggal di Jl Kiayi Maja juga banyak kenangan nya.. ada beberapa sahabat yang saat ini masih suka nimbrung membaca kisah2 saya di Facebook, yang saat itu ikut mengalami kenangan indah di rumah jalan Kiayi Maja, nya antara lain Harry Abraham dan Anggrahito Arisudewo. Nanti akan saya ulas secara detail yaa Mas. Kembali ke kepribadian seorang Rahman, Ternyata saya senang melihat cara Rahman bekerja. Perawakan nya pendek, rambut ikal, logat jawa timuran nya kental sekali. Usia nya lebih tua lima tahun dari umur saya. Kami akhirnya selalu memanggil dia kalau ada masalah dengan mobil VW milik ibunda saya.. Kalau pekerjaan nya membutuhkan waktu panjang, maka dia kami ajak makan dirumah. pergaulan kami jadi dekat. Aneh nya waktu pertama kali orang tua saya bayar ongkos bongkar mesin ke dia.. eh malah dia ajak saya nonton film di Mayestik dengan uang itu.. Ketika rumah orang tua saya yang di Blok M selesai di renovasi, kami pindah dari Mayestik ke Blok M.. agak lama tak bertemu dengan Rahman (mungkin karena mobil VW nya ga rusak rusak lagi, Eh tau tau ketemu dia kerja di Sarinah Blok M, Rahman juga senang bisa bertemu lagi dengan saya, tanpa harus nunggu ada mobil yang rusak he he he. Seringkali setelah dia selesai kerja di Sarinah, disempatkan dirinya mampir ke rumah, kadang bawa oleh-oleh daging.. atau bawa sayuran.. Dia sering ikut makan juga satu meja di rumah kami. Pernah satu kali dia berkata bahwa dia senang bisa bergaul dengan teman2 saya yang mahasiswa (terpelajar), maka dia mohon agar sering sering diajak main bersama temen2.. Nah kebetulan rumah ibu saya memang rumah yang selalu terbuka bagi teman teman anak nya.. di rumah itu ada beberapa orang yang indekost dan kalau sudah makan.. maka kita semua makan satu meja.. senang sekali rasanya.. Suatu saat Rahman pamit, Dia harus pindah ke Surabaya. melepaskan pekerjaan nya di Sarinah, karena harus mengurus warisan dari ortu nya yang wafat di Surabaya. Nah kembali ke cerita perjalanan, Saat kami datang di Surabaya, kami mencari rumah Rahman. walaupun kami sudah berpisah beberapa tahun, tetapi Rahman selalu mengirim surat, yang memberitahu keadaan nya, dan memberi alamat, Berdasarkan dari surat menyurat itu saya mengetahui bahwa dua kali dia pindah selama di Surabaya.. Dan ketika kami datang menemui nya, ternyata dia baru saja menempati rumah nya yang baru di bangun (pembagian warisan tentu saja).. Dan baru menikah juga.. Rumah nya tidak begitu besar, tapi tentu saja Rumah ukuran seperti itu cukup bagi orang yang baru menikah.. Rahman memaksa agar kami menginap di rumah nya walaupun itu berarti kami hanya tidur di ruang tamu.. Saya ingat sekali, saat itu sudah mulai musim hujan.. Istri nya semula agak rese juga melihat kami bergeletakan di ruang tamu.. dan gara2 kami ruang tamu nya agak acak acakan.. Tapi istri nya baik hati.. gak pernah ngomel.. sampai kami berangkat dari surabaya menuju bali. Rahman menyarankan agar kami mau mengajak adiknya yang masih bujangan, yang tertarik untuk ikut berpetualang dengan kami.. Oke saja, tapi itu berarti kami harus tidur tiga malam di surabaya, karena adiknya harus mencari teman yang bisa bergoncengan dengan dia di motor merk Susuki.. Ya tidak apa apa.. akhir nya rombongan kami jadi 3 motor.. |

Comments
Post a Comment