KENANGAN AYAHANDA MEMBELIKAN SEPEDA RALEIGH
|
KENANGAN PUNYA SEPEDA MERK RALEIGH
Agak lupa saya kapan sebetulnya saya bisa menaiki sepeda roda dua. Yang saya ingat pada usia 6 tahun yaitu kurang lebih tahun 1958 ayahanda sdh membelikan sepeda roda dua plus dua roda kecil tambahan di kiri dan kanan. Tapi wktu kelas 4 SR (skrg disebut SD) saya sdh bisa naik sepeda roda dua milik teman2 tetangga di lingkungan perumahan kawasan Grogol. Dan ketika saya duduk dikelas 5 SR, saya mendengar bahwa guru Kelas 6 yang bernama pak Bagyo, ingin menjual sepeda nya. Langsung saja saya menyampaikan kepada ayah mengenai hal tersebut dan segera saja ayahanda menyuruh saya menanyakan harga nya.. Oya.. saya bersekolah di SR Sumbangsih, di jalan Muwardi 1, Grogol. Sebelum mempunyai sepeda, saya jalan kaki ke sekolah berangkat dan pulang ke rumah di jalan dr Susilo III. Jarak dari rumah ke sekolah kira kira 3 – 4 km. Saya sempat mengalami banjir besar di Grogol. Sehingga sekolah diliburkan untuk beberapa hari. Jalan raya (Jl Muwardi Raya) yang biasa kami jalani pagi dan siang hari terendam sampai sepinggang manusia dewasa. Untung rumah tempat tinggal ortu kami agak tinggi, tapi tetap saja tak bisa kemana mana, karena sudah seperti pulau dikepung lautan. Kembali ke Sepeda, Sepeda pak Bagio adalah sepeda laki laki (batangan) model onthel merk Raleigh.. Saya senang sekali melihat sepeda itu. Ada verseneling nya. Gigi 1 sd 3. Dan kalau di kayuh mengeluarkan bunyi tik .. tik.. tik.. sedangkan kalau sedang jalan kayuh nya di biarkan diam, bunyi nya menjadi SRRRR…. SRRRR.. sangat gagah, dan masih teringat sampai saat ini. Akhirnya sepeda itu dibeli oleh ayahanda dan mulai saya gunakan ketika bersekolah di kelas 6. Dan mulai sering pergi naik sepeda itu bila sudah hari sabtu dan minggu. Paling sering adalah dari Grogol kerumah sepupu saya di Tanah Abang 1. Pendek kata, sejak saat itu saya sudah sejiwa dengan sepeda onthel ku.. kemana saya pergi selalu bersama sepeda onthel ku.. Pembangunan jalan raya Grogol – Jembatan Semanggi. Oya.. saya belum cerita bahwa saat kami tinggal di Grogol itu, ditahun 1963 jalan S.Parman sedang dlm proses penyelesaian. Hampir selesai, belum di resmikan. Saya lupa apa nama jalan tersebut sebelum diberi nama S.Parman. Jalan tersebut adalah jalan raya yang menghubungkan Grogol dengan Jembatan Semanggi, melewati Slipi dan Pejompongan. Karena kami tinggal di Grogol, saya dan teman teman sering main ke proyek pembangunan jalan tersebut. di kiri kanan jalan yang sedang dibangun itu masih banyak sawah sawah dan kuburan cina. Di sawah sawah itu, kami suka memancing lindung (belut) di sawah2 dan suka juga kedapatan ular tanah sedang merayap menjauhi kami. Terkadang kami juga berenang di sungai kecil yang air nya mengalir (kalau tidak salah kali Krukut nama nya). Kalau sdh berenang, kami lepas semua pakaian, alias berenang telanjang.. ha ha gak bakal malu karena tidak ada yang melihat.. Sepanjang mata memandang hanya sawah saja yang terlihat (pengalaman nya seperti pengalaman dalam buku buku yang saya baca pada saat itu yaitu buku berjudul JAMAL dan Tara Anak Tengger. Buku yang bagus sekali.. saya masih mau baca buku itu kalau masih ada diantara sahabat pembaca kisah ini yang mengkoleksi buku tersebut. Suatu saat di bulan puasa, ketika jalan S.Parman sudah hampir selesai, arti nya sudah bisa dilalui sepeda, namun belum di resmikan oleh pemerintah. Saya dan beberapa teman (namanya Budi, Benny, dan Yachman), beriringan naik sepeda melalui jalan baru tersebut, tujuan nya adalah ke Komplek Olahraga Senayan (kemudian dikenal dengan Gelanggang Olah Raga Senayan, atau disingkat GELORA SENAYAN). Ketika itu didalam Gelora Senayan ada beberapa stadion kecil kecil yang baru di bangun atau sedang dalam tahap penyelesaian antara lain stadion menembak, stadion tennis, Pulang dari komplek Gelora Bung Karno, kami main ke pejompongan, ke rumah ibunda nya Budi dan Benny (mereka adik kakak). Ibunda kedua teman saya tersebut senang sekali kedatangan anak2 nya yang selama ini tinggal bersama ayahnya di Grogol. Kedua ortu nya berpisah, dan masing masing menikah lagi. Setiap kali bersepeda kearah ini, kami pasti mampir ke rumah ibunda teman saya ini, dan biasa nya kami makan siang disitu sebelum pulang kembali ke Grogol. Demikianlah, kami main sepeda sampai kemana mana. Bahkan pernah sampai ke Mayestic (dekat Taman Puring). Didekat Taman Puring ada Bu Lik (adik dari ayahanda) saya tinggal disana. Ketika Bu Lik saya (skrg sdh almarhum, semoga sdh berada di sisi NYA) melihat saya datang naik sepeda, beliau kaget, tak menyangka saya bisa sampai ke rumahnya dgn cara naik sepeda, Beliau khawatir apakah saya bisa sampai kembali kerumah ortu saya di Grogol. tapi saya meyakinkan beliau, bahwa saya sudah biasa naik sepeda bersama teman teman. Pengalaman lain lagi yang membuat saya di MAHMILUB oleh Ayahanda saya (istilah Mahmilub sering dipakai saat itu setelah ada peristiwa Gestok (Gerakan satu Oktober) atau Gestapu (Gerakan september tiga puluh). MAHMILUB adalah sidang Mahkamah Militer Luar Biasa terhadap tokoh2 yang terlibat dalam KUDETA. Saya ingat sekali hari minggu pagi2 kami sdh bersepeda, kali ini jurusan nya ke ANCOL.. (saat itu belum ada Bina Ria.. belum ada Taman Impian Jaya Ancol. yang ada hanya satu area tempat orang berenang di pantai, disertai sebuah restoran tempat orang makan dan ada band yang menghibur dengan lagu lagu). Ketika sampai di Ancol, terdengar ada Band sedang menyanyikan lagu Beatles, hei berani juga yaa padahal saat itu lagu Beatles dianggap lagu cengeng (alias NGAK NGIK NGOK).. lagu nya saya masih ingat, yaitu "AND I LOVE HER".. terasa nikmat sekali walaupun hanya mendengar suara mereka mainkan lagu itu dari luar (balik tembok). Kata orang orang di luar, yang main musik lagu Beatles dibalik tembok itu adalah band ARULAN. Saat itu saya termasuk penggemar band Arulan dan tak nyangka bahwa akan menjadi saudara karena salah seorang anggota Band Arulan Rosihan Bajumi menikah dengan sepupu saya. Tak terasa sudah sore, dan kami segera sadar, bahwa kami masih terlalu jauh dari rumah.. Buru buru lah kami pulang, sampai di rumah sudah lewat maghrib. dan orang tua sudah khawatir (maklum saat itu tidak ada alat komunikasi yang bisa kami handalkan), Sampai di rumah, saya langsung di Mahmilub.. (grounded tak boleh naik sepeda selama sebulan).. PINDAH SEKOLAH KE SMP. Karena sekolah Sumbangsih di jl Muwardi tersebut hanya sampai kelas 6 SR, maka begitu lulus, dicarikan sekolah oleh ibunda saya. Karena saat itu sekolah sekolah Katholik yang terkenal bagus, maka saya di daftarkan di sebuah sekolah Katholik di bilangan jalan Budi Kemuliaan (Jakarta pusat). Saya hanya sempat masuk di jalan budi kemuliaan selama 3 bulan, karena setelah itu sekolah tersebut pindah ke bunderan Slipi. Suatu pagi ketika sekolah belum pindah ke Slipi, saya kaget melihat ada pengumuman di depan pintu sekolah. Isinya menyatakan bahwa sekolah di liburkan. Loh koq mendadak sekali tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.. Maka pulang lah saya dengan hati kecewa.. Tapi mendadak hilang rasa kecewa saya digantikan dengan rasa khawatir.. disepanjang perjalanan pulang saya lihat banyak tentara, berpakaian lengkap berdiri di pinggir jalan dengan senjata stand by siap digunakan. Saya perhatikan mereka mengenakan baret hijau, dan leher nya dikalungkan oleh sebuah selendang warna kuning. Ketika sampai di rumah, ayahanda bilang ada Coup D’taat (KUDETA). Untuk beberapa lama saya tidak sekolah, kerja nya hanya main main saja,. Karena rasa penasaran, pergilah saya naik sepeda ke rumah sepupu saya di jl tanah abang 1.. dan saya ajak sepupu saya berkeliling ke lapangan Monas, naik sepeda. Karena sepupu saya tidak mau, maka saya hanya sendirian menggenjot sepeda masuk ke jalan silang MONAS dari arah Budi Kemuliaan (bunderan Bank Indonesia) menuju Tugu Monas (saat itu masih boleh karena tidak ada pagar seperti yang sekarang kita lihat.. masih ada becak wora wiri di silang monas. Ketika sedang enak enak nya menggenjot, tiba tiba terdengar bunyi tembakan berentet (rupanya dari senjata otomatis) suara nya suasana nya seperti sedang perang .. buset buset buset.. takut sekali saya saat itu.. Perlu saya informasikan bahwa saat itu Satuan tentara yang menggunakan senapan otomatis hanya RPKAD, PGT, KKO saja. (RPKAD berbaret merah = Resimen Pasukan Khusus Angkatan Darat), PGT menggunakan baret Orange = Pasukan Gerak Cepat, milik AU. Dan pasukan KKO ber baret Ungu adalah Korps KOmando milik Angkatan Laut. Ada juga pasukan pasukan lain yang menggunakan baret misalnya baret Hijau digunakan oleh Resimen Diponegoro (jawa tengah), Baret Hitam digunakan oleh Brimob (kepolisian). Baret Biru Muda digunakan oleh CPM (Corps Polisi Militer). dan satu lagi baret merah tapi dengan lambang BULATAN senjata CAKRA untuk barisan pengawal presiden yang bernama CAKRABIRAWA. Terkejut hati saya mendengar rentetan tembakan tersebut, kedengaran nya dari arah ISTANA NEGARA. Langsung saja saya membalikkan arah sepeda kembali ke bundaran Bank Indonesia.. Kekalutan hati saat itu tak bisa saya lupakan.. seakan peluru sedang mengarah ke saya.. tukang tukang becak pun yang semula santai, berbalik arah mengikuti perbuatan saya. Saya selamat sampai dirumah sepupu (rumah paman saya), dan di marahi oleh bibi saya yang sedang masak makanan untuk santap siang.. Suasana kota Jakarta sangat mencekam.. Saya lupa berapa lama saya tak bersekolah, yang pasti cukup lama, Tapi kemudian karena tak betah di rumah, saya ikut ikutan demo dengan KAPPI (atau KAPI ya?) walaupun sebetulnya SMP ku tidak ikut ikutan berdemo.. saya ikut dengan SMP lain yang ada di dekat Grogol. Waaah ada ada aja yaa.. Nah waktu naik di atas truk bersama anak anak SMP lain.. saya koq seperti kemasukan setan, saya nekad, rasa jadi jagoan.. Saya ikut ikutan anak SMP yang lain pindah ke Truk yang membawa pasukan RPKAD berkeliling keliling kota. Setiap kali melewati ISTANA NEGARA, saya ikut ikutan anak SMP yang lain mengacung acungkan pisau belati ketika liwat di Istana (betul betul kemasukan setan).. Saat itu Istana di jaga oleh pasukan KKO berbaret ungu.. Kelas dua SMP saya ikut ortu pindah rumah. Ayahanda sebetulnya baru saja sembuh dari sakit Stroke yang diderita nya sejak sejak 1995. Kepindahan tersebut menyita tenaga dan pikiran juga rupanya. Dan pada suatu malam setelah selesai makan bersama di meja makan. Beliau merasa pusing dan berbaring di kamar. Ternyata dia terserang stroke lagi (stroke yang ketiga kali). Saya mengendarai sepeda onthel saya ke rumah seorang dokter di dekat rumah.. Maksud saya mohon tolong agar dokter pribadi ayah saya tersebut bisa datang ke rumah untuk memberi pertolongan kepada ayah saya.. Tapi malam itu ada pertandingan Thomas CUP.. Indonesia lawan Denmark. Sang dokter tak mau meninggalkan teve yang sedang ditonton nya memberitakan pertandingan final Thomas Cup. Saya kembali ke rumah.. dlm seusia seperti itu, tak ada yg dapat saya lakukan untuk membujuk sang dokter. Maka saya pulang menggenjot sepeda sambil berurai air mata.. Masih teringat saat itu, keadaan ayahanda makin buruk dan akhirnya tak tertolong.. Beliau meninggal jam 21.00 malam. Saya menghubungi semua adik adik ayahanda, tapi rupanya semua juga sedang di ISTORA nonton Bulu Tangkis.. sebagian lagi sedang nonton film di bioskop Megaria. Sehingga akhirnya saya minta di umumkan di istora dan di Megaria agar para sanak saudara mengerti bahwa kakaknya telah berpulang ke Rahmatullah. Dalam kesenyapan setelah ayahanda berpulang.. Saya sering melamun.. yang membuat saya tersadar bahwa saya sdh tak punya ayah lagi adalah .. ketika para saudara mau pulang dari rumah selalu pamit kepada saya.. biasanya mereka selalu pamit sama ayah dan ibu saja.. Kali itu mereka semua pamit kepada ibu dan saya.. Huuuuuuu.. Dalam kesenyapan itu pula.. saya baru sadar bahwa sdh beberapa lama saya tak naik sepeda. Seketika itu juga saya cari cari sepeda Onthel.. barulah saya menyadari bahwa sepeda tersebut sudah tidak ada lagi di rumah.. Ada yang mencuri disaat kami sedang dalam kesempitan. Demikian pula jam tangan ayahanda merk MIDO gold plated, hilang tak tentu rimba.. |
!['KENANGAN PUNYA SEPEDA MERK RALEIGH
Agak lupa saya kapan sebetulnya saya bisa menaiki sepeda roda dua. Yang saya ingat pada usia 6 tahun yaitu kurang lebih tahun 1958 ayahanda sdh membelikan sepeda roda dua plus dua roda kecil tambahan di kiri dan kanan. Tapi wktu kelas 4 SR (skrg disebut SD) saya sdh bisa naik sepeda roda dua milik teman2 tetangga di lingkungan perumahan kawasan Grogol.
Dan ketika saya duduk dikelas 5 SR, saya mendengar bahwa guru Kelas 6 yang bernama pak Bagyo, ingin menjual sepeda nya. Langsung saja saya menyampaikan kepada ayah mengenai hal tersebut dan segera saja ayahanda menyuruh saya menanyakan harga nya..
Oya.. saya bersekolah di SR Sumbangsih, di jalan Muwardi 1, Grogol. Sebelum mempunyai sepeda, saya jalan kaki ke sekolah berangkat dan pulang ke rumah di jalan dr Susilo III. Jarak dari rumah ke sekolah kira kira 3 – 4 km. Saya sempat mengalami banjir besar di Grogol. Sehingga sekolah diliburkan untuk beberapa hari. Jalan raya (Jl Muwardi Raya) yang biasa kami jalani pagi dan siang hari terendam sampai sepinggang manusia dewasa. Untung rumah tempat tinggal ortu kami agak tinggi, tapi tetap saja tak bisa kemana mana, karena sudah seperti pulau dikepung lautan.
Kembali ke Sepeda,
Sepeda pak Bagio adalah sepeda laki laki (batangan) model onthel merk Raleigh.. Saya senang sekali melihat sepeda itu. Ada verseneling nya. Gigi 1 sd 3. Dan kalau di kayuh mengeluarkan bunyi tik .. tik.. tik.. sedangkan kalau sedang jalan kayuh nya di biarkan diam, bunyi nya menjadi SRRRR…. SRRRR.. sangat gagah, dan masih teringat sampai saat ini.
Akhirnya sepeda itu dibeli oleh ayahanda dan mulai saya gunakan ketika bersekolah di kelas 6. Dan mulai sering pergi naik sepeda itu bila sudah hari sabtu dan minggu. Paling sering adalah dari Grogol kerumah sepupu saya di Tanah Abang 1. Pendek kata, sejak saat itu saya sudah sejiwa dengan sepeda onthel ku.. kemana saya pergi selalu bersama sepeda onthel ku..
Pembangunan jalan raya Grogol – Jembatan Semanggi.
Oya.. saya belum cerita bahwa saat kami tinggal di Grogol itu, ditahun 1963 jalan S.Parman sedang dlm proses penyelesaian. Hampir selesai, belum di resmikan. Saya lupa apa nama jalan tersebut sebelum diberi nama S.Parman. Jalan tersebut adalah jalan raya yang menghubungkan Grogol dengan Jembatan Semanggi, melewati Slipi dan Pejompongan.
Karena kami tinggal di Grogol, saya dan teman teman sering main ke proyek pembangunan jalan tersebut. di kiri kanan jalan yang sedang dibangun itu masih banyak sawah sawah dan kuburan cina. Di sawah sawah itu, kami suka memancing lindung (belut) di sawah2 dan suka juga kedapatan ular tanah sedang merayap menjauhi kami.
Terkadang kami juga berenang di sungai kecil yang air nya mengalir (kalau tidak salah kali Krukut nama nya). Kalau sdh berenang, kami lepas semua pakaian, alias berenang telanjang.. ha ha gak bakal malu karena tidak ada yang melihat.. Sepanjang mata memandang hanya sawah saja yang terlihat (pengalaman nya seperti pengalaman dalam buku buku yang saya baca pada saat itu yaitu buku berjudul JAMAL dan Tara Anak Tengger. Buku yang bagus sekali.. saya masih mau baca buku itu kalau masih ada diantara sahabat pembaca kisah ini yang mengkoleksi buku tersebut.
Suatu saat di bulan puasa, ketika jalan S.Parman sudah hampir selesai, arti nya sudah bisa dilalui sepeda, namun belum di resmikan oleh pemerintah. Saya dan beberapa teman (namanya Budi, Benny, dan Yachman), beriringan naik sepeda melalui jalan baru tersebut, tujuan nya adalah ke Komplek Olahraga Senayan (kemudian dikenal dengan Gelanggang Olah Raga Senayan, atau disingkat GELORA SENAYAN). Ketika itu didalam Gelora Senayan ada beberapa stadion kecil kecil yang baru di bangun atau sedang dalam tahap penyelesaian antara lain stadion menembak, stadion tennis, Pulang dari komplek Gelora Bung Karno, kami main ke pejompongan, ke rumah ibunda nya Budi dan Benny (mereka adik kakak).
Ibunda kedua teman saya tersebut senang sekali kedatangan anak2 nya yang selama ini tinggal bersama ayahnya di Grogol. Kedua ortu nya berpisah, dan masing masing menikah lagi. Setiap kali bersepeda kearah ini, kami pasti mampir ke rumah ibunda teman saya ini, dan biasa nya kami makan siang disitu sebelum pulang kembali ke Grogol.
Demikianlah, kami main sepeda sampai kemana mana. Bahkan pernah sampai ke Mayestic (dekat Taman Puring). Didekat Taman Puring ada Bu Lik (adik dari ayahanda) saya tinggal disana. Ketika Bu Lik saya (skrg sdh almarhum, semoga sdh berada di sisi NYA) melihat saya datang naik sepeda, beliau kaget, tak menyangka saya bisa sampai ke rumahnya dgn cara naik sepeda, Beliau khawatir apakah saya bisa sampai kembali kerumah ortu saya di Grogol. tapi saya meyakinkan beliau, bahwa saya sudah biasa naik sepeda bersama teman teman.
Pengalaman lain lagi yang membuat saya di MAHMILUB oleh Ayahanda saya (istilah Mahmilub sering dipakai saat itu setelah ada peristiwa Gestok (Gerakan satu Oktober) atau Gestapu (Gerakan september tiga puluh). MAHMILUB adalah sidang Mahkamah Militer Luar Biasa terhadap tokoh2 yang terlibat dalam KUDETA. Saya ingat sekali hari minggu pagi2 kami sdh bersepeda, kali ini jurusan nya ke ANCOL.. (saat itu belum ada Bina Ria.. belum ada Taman Impian Jaya Ancol. yang ada hanya satu area tempat orang berenang di pantai, disertai sebuah restoran tempat orang makan dan ada band yang menghibur dengan lagu lagu).
Ketika sampai di Ancol, terdengar ada Band sedang menyanyikan lagu Beatles, hei berani juga yaa padahal saat itu lagu Beatles dianggap lagu cengeng (alias NGAK NGIK NGOK).. lagu nya saya masih ingat, yaitu "AND I LOVE HER".. terasa nikmat sekali walaupun hanya mendengar suara mereka mainkan lagu itu dari luar (balik tembok). Kata orang orang di luar, yang main musik lagu Beatles dibalik tembok itu adalah band ARULAN. Saat itu saya termasuk penggemar band Arulan dan tak nyangka bahwa akan menjadi saudara karena salah seorang anggota Band Arulan @[1180465861:2048:Rosihan Bajumi] menikah dengan sepupu saya.
Tak terasa sudah sore, dan kami segera sadar, bahwa kami masih terlalu jauh dari rumah.. Buru buru lah kami pulang, sampai di rumah sudah lewat maghrib. dan orang tua sudah khawatir (maklum saat itu tidak ada alat komunikasi yang bisa kami handalkan), Sampai di rumah, saya langsung di Mahmilub.. (grounded tak boleh naik sepeda selama sebulan)..
PINDAH SEKOLAH KE SMP.
Karena sekolah Sumbangsih di jl Muwardi tersebut hanya sampai kelas 6 SR, maka begitu lulus, dicarikan sekolah oleh ibunda saya. Karena saat itu sekolah sekolah Katholik yang terkenal bagus, maka saya di daftarkan di sebuah sekolah Katholik di bilangan jalan Budi Kemuliaan (Jakarta pusat). Saya hanya sempat masuk di jalan budi kemuliaan selama 3 bulan, karena setelah itu sekolah tersebut pindah ke bunderan Slipi.
Suatu pagi ketika sekolah belum pindah ke Slipi, saya kaget melihat ada pengumuman di depan pintu sekolah. Isinya menyatakan bahwa sekolah di liburkan. Loh koq mendadak sekali tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.. Maka pulang lah saya dengan hati kecewa.. Tapi mendadak hilang rasa kecewa saya digantikan dengan rasa khawatir.. disepanjang perjalanan pulang saya lihat banyak tentara, berpakaian lengkap berdiri di pinggir jalan dengan senjata stand by siap digunakan. Saya perhatikan mereka mengenakan baret hijau, dan leher nya dikalungkan oleh sebuah selendang warna kuning. Ketika sampai di rumah, ayahanda bilang ada Coup D’taat (KUDETA).
Untuk beberapa lama saya tidak sekolah, kerja nya hanya main main saja,. Karena rasa penasaran, pergilah saya naik sepeda ke rumah sepupu saya di jl tanah abang 1.. dan saya ajak sepupu saya berkeliling ke lapangan Monas, naik sepeda.
Karena sepupu saya tidak mau, maka saya hanya sendirian menggenjot sepeda masuk ke jalan silang MONAS dari arah Budi Kemuliaan (bunderan Bank Indonesia) menuju Tugu Monas (saat itu masih boleh karena tidak ada pagar seperti yang sekarang kita lihat.. masih ada becak wora wiri di silang monas.
Ketika sedang enak enak nya menggenjot, tiba tiba terdengar bunyi tembakan berentet (rupanya dari senjata otomatis) suara nya suasana nya seperti sedang perang .. buset buset buset.. takut sekali saya saat itu.. Perlu saya informasikan bahwa saat itu Satuan tentara yang menggunakan senapan otomatis hanya RPKAD, PGT, KKO saja. (RPKAD berbaret merah = Resimen Pasukan Khusus Angkatan Darat), PGT menggunakan baret Orange = Pasukan Gerak Cepat, milik AU. Dan pasukan KKO ber baret Ungu adalah Korps KOmando milik Angkatan Laut. Ada juga pasukan pasukan lain yang menggunakan baret misalnya baret Hijau digunakan oleh Resimen Diponegoro (jawa tengah), Baret Hitam digunakan oleh Brimob (kepolisian). Baret Biru Muda digunakan oleh CPM (Corps Polisi Militer). dan satu lagi baret merah tapi dengan lambang BULATAN senjata CAKRA untuk barisan pengawal presiden yang bernama CAKRABIRAWA.
Terkejut hati saya mendengar rentetan tembakan tersebut, kedengaran nya dari arah ISTANA NEGARA. Langsung saja saya membalikkan arah sepeda kembali ke bundaran Bank Indonesia.. Kekalutan hati saat itu tak bisa saya lupakan.. seakan peluru sedang mengarah ke saya.. tukang tukang becak pun yang semula santai, berbalik arah mengikuti perbuatan saya. Saya selamat sampai dirumah sepupu (rumah paman saya), dan di marahi oleh bibi saya yang sedang masak makanan untuk santap siang..
Suasana kota Jakarta sangat mencekam.. Saya lupa berapa lama saya tak bersekolah, yang pasti cukup lama, Tapi kemudian karena tak betah di rumah, saya ikut ikutan demo dengan KAPPI (atau KAPI ya?) walaupun sebetulnya SMP ku tidak ikut ikutan berdemo.. saya ikut dengan SMP lain yang ada di dekat Grogol. Waaah ada ada aja yaa.. Nah waktu naik di atas truk bersama anak anak SMP lain.. saya koq seperti kemasukan setan, saya nekad, rasa jadi jagoan.. Saya ikut ikutan anak SMP yang lain pindah ke Truk yang membawa pasukan RPKAD berkeliling keliling kota. Setiap kali melewati ISTANA NEGARA, saya ikut ikutan anak SMP yang lain mengacung acungkan pisau belati ketika liwat di Istana (betul betul kemasukan setan).. Saat itu Istana di jaga oleh pasukan KKO berbaret ungu..
Kelas dua SMP saya ikut ortu pindah rumah. Ayahanda sebetulnya baru saja sembuh dari sakit Stroke yang diderita nya sejak sejak 1995. Kepindahan tersebut menyita tenaga dan pikiran juga rupanya. Dan pada suatu malam setelah selesai makan bersama di meja makan. Beliau merasa pusing dan berbaring di kamar. Ternyata dia terserang stroke lagi (stroke yang ketiga kali). Saya mengendarai sepeda onthel saya ke rumah seorang dokter di dekat rumah.. Maksud saya mohon tolong agar dokter pribadi ayah saya tersebut bisa datang ke rumah untuk memberi pertolongan kepada ayah saya..
Tapi malam itu ada pertandingan Thomas CUP.. Indonesia lawan Denmark. Sang dokter tak mau meninggalkan teve yang sedang ditonton nya memberitakan pertandingan final Thomas Cup. Saya kembali ke rumah.. dlm seusia seperti itu, tak ada yg dapat saya lakukan untuk membujuk sang dokter. Maka saya pulang menggenjot sepeda sambil berurai air mata.. Masih teringat saat itu, keadaan ayahanda makin buruk dan akhirnya tak tertolong.. Beliau meninggal jam 21.00 malam. Saya menghubungi semua adik adik ayahanda, tapi rupanya semua juga sedang di ISTORA nonton Bulu Tangkis.. sebagian lagi sedang nonton film di bioskop Megaria. Sehingga akhirnya saya minta di umumkan di istora dan di Megaria agar para sanak saudara mengerti bahwa kakaknya telah berpulang ke Rahmatullah.
Dalam kesenyapan setelah ayahanda berpulang.. Saya sering melamun.. yang membuat saya tersadar bahwa saya sdh tak punya ayah lagi adalah .. ketika para saudara mau pulang dari rumah selalu pamit kepada saya.. biasanya mereka selalu pamit sama ayah dan ibu saja.. Kali itu mereka semua pamit kepada ibu dan saya.. Huuuuuuu..
Dalam kesenyapan itu pula.. saya baru sadar bahwa sdh beberapa lama saya tak naik sepeda. Seketika itu juga saya cari cari sepeda Onthel.. barulah saya menyadari bahwa sepeda tersebut sudah tidak ada lagi di rumah..
Ada yang mencuri disaat kami sedang dalam kesempitan. Demikian pula jam tangan ayahanda merk MIDO gold plated, hilang tak tentu rimba..'](https://scontent-sit4-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-0/q87/s180x540/41795509_10156128302493978_8035618016764887040_n.jpg?_nc_cat=102&oh=8c8fdb9458acc34579f29b8780ba3e5c&oe=5C273166)
Comments
Post a Comment