JALAN BALADEWA BANDUNG TH 1967

KENANGAN INDAH DI JL BALADEWA BANDUNG TH 1967

Itu adalah kali kedua saya ke Bandung. Ketika pertama kali ke Bandung saya diajak oleh Ayahanda saya dan menginap sekeluarga di Wisma Pandawa Cimbuleuit. Sedangkan kali kedua ini saya ke Bandung dilakukan saat ayahanda saya sudah tiada, dan bertepatan dengan liburan kenaikan kelas di akhir tahun 1967. 

Yang membuat perjalanan ke Bandung ini istimewa bagi saya adalah karena perjalanan ini adalah perjalanan yang pertama kali tanpa orang tua. Saat itu saya baru saja memasuki usia 15 tahun, ternyata sudah berani naik kereta api ke Bandung karena saya menjalani nya bersama Dion (14 th) dan Bambang (16 th).

Dion (Dion H Hardiwinangun) adalah sepupu saya (ayahnya adalah adik dari ibunda saya), sedangkan Bambang adalah tetangga yang tinggalnya bersebelahan dengan rumah ortu Dion. Saat itu saya mau masuk kekelas 3 SMP, dan Dion baru masuk kelas 2 SMP. Sedangkan Bambang baru mendaftar kelas 1 STM. Kemana pun kami selalu bertiga, oleh karena nya kami pun ke Bandung bertiga.

Saya ingat, liburan kenaikan kelas bakalan cukup lama, maka secara diam diam saya dan Dion berencana ingin meluangkan waktu liburan sekolah pergi ke Bandung naik kereta api. Di Bandung saat itu ada uwa Ida (kakak tertua dari ibunda saya dan ayahanda Dion) yang tinggal di jalan BALADEWA.

Agar rencana kami bisa berhasil, kami harus mengatur strategi dalam proses membujuk orang tua kami, Strategi kami adalah sbb : Karena ibu saya baru saja kehilangan suami tercinta yang meninggal bulan Mei 1967, maka kami harus berhati hati meminta izin kepada Beliau walau semua orang mengetahui bahwa Ibunda saya adalah seorang yang bijaksana. Berdasarkan hal tersebut maka strategi nya adalah harus saya duluan yang mendapat izin dari ortu saya. Kalau saya sudah mendapat Izin, maka gampang lah mengatur permohonan izin dari orang tua Dion yang terkenal sebagai pasangan yang paling baik hati di dunia. Sedangkan orang tua Bambang (terutama ayahanda nya) pasti akan memberi izin kalau dia mengetahui bahwa saya dan Dion sudah diberi izin.

Jadi saya lah yang paling duluan menginformasikan kepada Ibunda saya, “Bu, boleh apa tidak saya pergi ke Bandung naik kereta api sama Dion dan Bambang?” ibu saya agak terkejut juga mendengar pertanyaan saya tersebut, tapi kemudian dia bertanya, “ Loh apakah Dion dan Bambang sudah dapat izin dari orang tua nya?” .. Segera tanpa ragu saya jawab “SUDAH bu, sudah diizinkan”. Sebetulnya saya agak khawatir juga, takut kalau2 ibunda saya mengecek ke ayahanda nya Dion dan menemukan kenyataan bahwa sebetulnya kami belum pernah ngomong apa apa sama ortu nya Dion.

Syukur Alhamdulillah ternyata ibunda saya percaya akan jawaban saya, untuk memperkuat maka saya menambahkan lagi, “Tapi ortu Dion dan Bambang akan membatalkan kalau ibu tidak memberi izin kepada saya”. Mendengar tambahan penjelasan saya seperti itu, ibunda saya langsung mengizinkan saya untuk ikut.

Setelah strategi pertama berhasil, maka langkah berikutnya adalah : Dion harus menginformasikan kepada ortu nya bahwa ibunda saya dan orang tua Bambang sudah memberi izin untuk pergi bertiga. Sebagaimana telah saya perkirakan, Ortu nya Dion lgs mengizinkan anaknya pergi ke Bandung setelah mendengar bahwa ibunda saya sdh memberi izin. .. Sedangkan exit permit bagi Bambang tak ada masalah sama sekali dengan orang tua nya.. Dia sudah cukup dewasa, dan Ayah nya tau bahwa kami bertiga sudah seperti trio (Ha ha TRIO MACAN) yang tak dapat dipisahkan.

Maka akhir nya pada hari yang ditentukan, tibalah kami di stasiun Kota (Beos). Itulah pengalaman saya pergi tanpa orang tua ke luar kota. Kami bertiga berdiri didepan loket memesan tiket untuk pergi ke Bandung. Nama kereta api jakarta-bandung pp waktu itu "Kereta Api Kilat Gaya Baru". Kereta baru 100% buatan jepang.

Alamat wak Ida sudah kami kantongi, dan kebetulan kami duduk berhadap hadapan 4 seat.. Ternyata seat yang satu lagi diisi oleh seorang Mahasiswi yang lumayan ramah yang akan pulang ke Bandung. Dia rupanya menyimak percakapan kami dan hanya tersenyum mendengar strategi kami meminta izin kepada orang tua.. Percakapan kami dengan si Mahasiswi ternyata berlanjut terus amat mengasyikkan, sehingga perjalanan naik kereta selama 3,5 jam tak terasa lama. Tau tau pak kondektur sdh memberi tau kepada kami agar siap2 karena kereta kami akan segera memasuki stasiun Bandung.

Tiba di gerbang stasiun, kami langsung memilih becak untuk mengantarkan kami menuju jalan Baladewa. Saya agak lupa bagaimana tiba tiba seorang paman nya Bambang ada di Stasiun. Dia mengendarai sebuah motor vespa. Mungkin ayah nya Bambang menghubungi adiknya yang tinggal di Bandung, untuk menjemput anaknya dan tinggal di rumah nya selama Bambang ada di Bandung.

Tak berapa lama kemudian, Bambang sudah naik vespa digonceng oleh paman nya mengikuti Becak yang membawa kami (saya dan Dion) ke jalan Baladewa, Setelah berpamitan, paman nya itu kemudian membawa Bambang pergi ke rumah nya yang berlokasi di sekitar Lapangan terbang ANDIR. Bambang berjanji akan datang main esok hari ke jalan Baladewa.

Wak Ida sangat gembira mengetahui kedatangan kami untuk menginap di rumah nya..Wak Ida adalah anak tertua dari kakek dan nenek kami yang mempunyai 11 anak, Anak kedua juga adalah seorang wanita bernama wak Niem, sedang kan Ibunda saya adalah anak ketiga. Anak keempat adalah ayahanda Dion.

Wak Ida sudah hidup menjanda sejak tahun 1963, almarhum suami nya adalah pegawai di Kementrian Luar Negeri, pernah bertugas di London, dan juga pernah jadi Duta Besar di Negara Sahabat Portugal. Sebelum pindah ke Bandung, beliau tinggal di kawasan menteng Jakarta. Anaknya 4, namun dua orang sdg mengikuti Pendidikan di LN, Ketika anak ketiga (bernama Indra) diterima di ITB Bandung, maka Wak Ida pindah ke Bandung, mengikuti anak ketiga membawa anak keempat yaitu seorang wanita (bernama Linda) yang saat itu masih duduk dikelas 3 SMA.

Rumah tempat wak Ida tinggal di jalan Baladewa terletak dipaling ujung dan di hook di jl. baladewa mempunyai halaman yang cukup luas, seingat saya ada halaman di belakang yang di lapisi semen, Sebuah mobil keluarga merk Morris station wagon, bisa masuk sampai ke belakang dimana terdapat garasi yang cukup luas.. Kak Indra setiap hari kuliah naik sebuah sepeda motor DKW warna Merah Bata. Dan teh Linda naik angkot pergi ke sekolah.

Saya berdua Dion sangat bahagia menghabiskan waktu liburan kami kala itu di jl Baladewa. Kami berdua banyak berkenalan dengan teman2 kak Indra baik dari ITB maupun dari UNPAD. Rupanya rumah di jalan Baladewa tersebut dijadikan tempat mangkal nya (markas) gerakan mahasiswa Bandung (teman teman kak Indra) antara lain waktu itu sedang rame gerakan Kelompok Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), dan juga ada perkumpulan MAHAWARMAN (kelompok pendaki gunung khusus mahasiswa ITB). Kak Indra juga seorang penerjun payung.

Diantara teman teman kak Indra yang sempat dekat dengan kami adalah : Kak Onang (anak tante Bett yang kos di Baladewa. Tante Bett adalah Adik Wak Zainal almarhum, suami wa Ida), Kak Eddy, Kak Emir Faridz, Kak Emil Samil (dia selalu datang naik mobil merk SKODA warna merah buatan Ceko, tapi setiap kali mau di start ga kuat battery nya sehingga selalu minta tolong dorong kepada saya dan Dion),

Ada juga yang bernama kak Eddy Zubir yang ternyata ortu nya bertempat tinggal didekat rumah ortu saya yaitu di jl Panglima Polim 5 Jakarta, Terakhir adalah Kak Dadang dari UNPAD, saya terkenang wajah nya mirip dengan George Washington. Kak Dadang indekos di Baladawa. Seluruh teman teman kak Indra dianggap sebagai keluarga oleh wak Ida. Kami makan selalu meriung berame rame di ruang makan. Ketambahan saya dan Dion beserta Bambang di jalan Baladewa, tidak ada keistimewaan, tak ada kemewahan, sederhana saja yang penting kumpul dan bisa makan bersama.

Sesuai dengan janji nya, setiap pagi Bambang Sukotjo datang membawa Vespa paman nya.. Pagi hari di kala rumah Baladewa sedang sepi (karena para mahasiswa sedang kuliah), maka kami bertiga bergantian naik vespa. Saya dan Dion sangat senang karena saat itulah pertama kali kami belajar mengendarai Sepeda Motor. (belum ada tuh saat itu boncengan bertiga naik sepeda motor, maka kami bergantian naik vespa, supaya cepat bisa bergantian maka trayek nya paling jauh sampai jalan Pajajaran. Kala itu masih sepi).

Dan kalau Kak Indra sudah pulang dari Kuliah, kami minta izin menggunakan DKW nya untuk jalan jalan beriringan dua motor mengelilingi kota Bandung. Pernah kami jalan sampai ke rumah Mang Mbut di jl.Hergamanah (paling ujung) didekat pertigaan jl.hergamanah- jl.setiabudi sebelum di jl.sumatra (Mang Mbut adalah adik ibunda kami yang ke enam yang bertugas sebagai Polisi di kota bandung).

BELAJAR ILMU TENAGA DALAM

Dikala senggang teman teman kak Indra main Monopoli tapi segera bubar bila ada panggilan untuk apel di kampus. Pada malam hari ada latihan ilmu tenaga dalam dari seorang guru yang nama nya tak kami ketahui, karena kami disuruh memanggilnya dengan sebutan MAMANG. Kalau tidak salah, ada 10 gerakan (jurus) yang harus di latih. Kami berlatih di pekarangan belakang didepan garasi. Tiap tiap jurus itu pada dasarnya adalah gerakan untuk memusatkan “Tenaga Dalam” untuk di salurkan melalui tangan kita atau melalui apa saja, bahkan bisa melalui mata kita saja.

Semakin sempurna gerakan nya, semakin kuat tenaga yang bisa kita hasilkan. Sebagai contoh, bila kita diserang oleh orang, kita hanya cukup menggerakan tangan kita atau mata kita.. maka orang yg menyerang tersebut bisa terpelanting. Setiap maksud jahat pasti bisa di tembak dengan tenaga dalam.

Semula saya tak percaya akan adanya kekuatan tenaga dalam yang bisa di alirkan melalui tangan kita. "Aakh itu sih pura pura aja orang terpelanting kena gerakan kak Edi yang menangkis pukulan".. beberapa kali saya coba memukul kak Edi tapi tak pernah jatuh terpelanting..

Satu kali, saya sudah merasa jenuh bener bener marah, kesal, entah ada perasaan apa. Saking kesal nya saya betul2an pukul kak Edi. Pasti dia luka kalau kena pukulan saya yg keras itu. Eh tau tau malah saya terpelanting salto sesuai dengan gerakan yang di lakukan kak Edi ketika menahan pukulan saya.. (Red : Padahal saya sama sekali gak bisa salto looh).. untung saja kepala saya tidak kena pinggiran meja).

Nah berdasarkan pengalaman itu, dan juga beberapa pengalaman saya sendiri, saya mempercayai ilmu itu memang sangat bermanfaat. antara lain saya pernah bisa mengarahkan orang lain utk tidak menabrak saya, hanya dengan mencari pandangan mata nya..ketika sudah beradu pandang, saya bisa lemparkan dia kearah lain. Gerakan / lemparan saya itu harus tepat dengan saat dia mau melakukan sesuatu.. contoh, seseorang mau menarik pelatuk senjata nya.. saat itu lah dia mudah saya tembak dengan tenaga dalam. Kita bisa melempar orang tersebut sampai berguling guling didepan kita.

Saya agak lupa apakah Bambang ikut latihan tenaga dalam? Karena latihan itu selalu diadakan malam hari (kadang sampai jam 23 malam) di halaman belakang rumah jalan Baladewa, dan seingat saya Bambang tidak pernah nginap di Jl Baladewa. Tapi saya sangat dapat memastikan bahwa saya dan Dion sempat ikut latihan tersebut, walaupun karena keterbatasan waktu kami hanya sampai jurus kedua saja.

Belakangan setelah kami kembali ke Jakarta, latihan tersebut di teruskan di rumah orang tua saya oleh temen temen kak Indra yang bertempat tinggal di Jakarta sampai selesai 10 jurus. Saat itulah saya ingat, bahwa Bambang ikut latihan di rumah ortu saya.

Seyogya nya setelah selesai belajar 10 jurus, harus ada acara pelantikan oleh Mamang di Bandung (katanya di sembur oleh Mamang baru bisa afdol). Namun saya tak sempat di sembur oleh maha guru (sang Mamang di Bandung). Tidak mengapa, tokh saya sudah dapat merasakan bahwa tenaga saya (ilmu itu) secara tak sengaja selalu melindungi saya dari segala marabahaya.

Selain pengalaman belajar ilmu tenaga dalam tsb di Bandung, saya juga mulai belajar mendengarkan lagu lagu POP melalui gramaphone yang ada di jl Baladewa.. Teh Linda (anak perempuan bungsu wak Ida) yang saat itu merupakan seorang gadis (perawan) cantik, sering mendapat pinjaman piringan hitam dari pengagum pengagum nya.. Kebetulan juga pengagum nya ada yang merupakan artis kondang di Tanah Air (tak perlu saya sebutkan nama nya, karena ybs masih hidup dan masih kondang sampai saat ini). Teh Linda (kini sdh almarhumah), hanya tinggal menyebut saja Piringan hitam yang hendak di dengar, maka besok nya Piringan Hitam (PH) dimaksud sudah dibawakan oleh para pengagum.

Orang tua saya di Jakarta juga mempunyai Gramaphone, tapi piringan hitam nya adalah lagu lagu tua, lagu tahun 1950an.. jarang saya berkeinginan mendengarkan lagu lagu tersebut. dan Kebetulan juga piringan2 hitam milik ayahanda itu sebanyak dua kotak (mungkin sekitar 60an jumlahnya) hilang tak ketahuan juntrungan nya ketika ayahanda saya meninggal dunia.

Beda dengan di Bandung, berkat pinjaman piringan hitam baru baru yg UPTODATE, saya mulai mengenal lagu lagu Beatles, Rolling Stones, The Monkees, The Beach Boys, bahkan kadang kami bisa membujuk teh Linda untuk minta pinjam lagu lagu yang kami sukai.

Ada satu Album dari Francoise Hardy (penyanyi berkebangsaan perancis yang menyanyikan lagu lagu karangan nya dalam versi Bahasa inggris), Album itu bukan pilihan kami, melainkan kesenangan dari teh Linda sendiri. Lagu lagu nya enak2, salah satu nya adalah “ALL OVER THE WORLD”, yang tetap terkenang sampai sekarang. Karena di Indonesia jarang yang mempunyai Album tersebut, maka nama Francoise Hardy kurang di kenal oleh masyarakat kita. Aneh nya belakangan saya dapati banyak diantara lagu2 Francoise Hardy menjadi inspirasi bagi para pencipta lagu di tanah air. Entah secara kebetulan mirip, atau memang sengaja menjiplak. Dan di tanah air menjadi lagu lagu yang booming.

TAMAT

Comments