# 5 SINGARAJA TRUNYAN KINTAMANI
(5) SINGARAJA, TRUNYAN, KINTAMANI.
Setelah puas dengan Pantai Kuta, hari ketiga di Bali, kami
bawa seluruh barang kami keluar dari Losmen di Denpasar, Tujuan kami adalah
Singaraja yang terletak di utara pulau Dewata tersebut. Kenapa ke Singaraja?.
Karena saya pernah baca bahwa Singaraja adalah kota pertama dii pulau Bali,
disitu ada pelabuhan terbesar di Bali. dan Singaraja juga merupakan ibukota
kerajaan Buleleng. yang pada tahun 1849 raja nya beserta 400 rakyat nya memilih
mati daripada harus bertekuk lutut kepada Belanda.
Perjalanan ke Singaraja melewati satu jalan saja dari
Denpasar.. Dari Selatan ke Utara sepanjang kurang lebih 90 kilometer, jalan
tersebut seolah membelah pulau Bali persis ditengah nya. Dalam perjalanan itu
kami sempat berhenti di kawasan Bedugul yang sudah terkenal keindahan nya sejak
zaman dulu, dan menjadi kan daerah itu sebagai salah satu tujuan wisata di
Pulau Bali. Bedugul berudara sejuk karena terletak dikaki gunung Agung, dan
keindahan nya bertambah karena keberadaan danau Beratan.
MAKAN JAGUNG BAKAR DI BEDUGUL
Udara di Bedugul saat itu sedang dingin dingin nya. Selama
kami beristirahat melempangkan kaki, kami nikmati pemandangan yang indah di
tepi danau Beratan. Kami lihat ada beberapa orang sedang mancing ikan di danau
tersebut, dan ada tukang jualan jagung bakar. Wouw jagung bakar sangat pas bagi
kami yang sedang kedinginan. Alhasil, kami makan jagung dengan tangan gemetaran
karena udara yang dingin tersebut, dan membawa beberapa untuk di makan dijalan.
Ketika kami sudah meneruskan perjalanan ke arah Singaraja, saya tiba tiba
teringat bahwa ada pemandangan yang belum saya potret dengan kamera. Ah nanti
saja kalau dalam perjalanan pulang akan saya potret.
SINGARAJA YANG PANAS
Tak berapa lama kemudian sampailah kami di Singaraja.
Ternyata Singaraja jauh dari harapan kami. Nah itu lagi masalah nya.. Selama
perjalanan ke Bali itu, kami tidak punya perencanaan yang matang. Berangkat ke
Singaraja cuma berdasarkan perasaan, karena ingat heroisme pendukung raja yang
memilih mati ketimbang di jajah. Singaraja kota nya panas, berdebu, dan yang
paling mengesalkan lagi adalah tak ada satupun turis yang datang kesana.
Saat itu masih jam 10an.. masih pagi, Akhir nya kami
putuskan, tidak usah berlama lama di Singaraja, tidak usah juga mendatangi
museum Tragedi 1849, Kami malah ngacir ke arah timur melewati jalan yang selalu
bersebelahan dengan pinggir pantai.. Alhamdulillah pemandangan di sepanjang
jalan sangat indah.. banyak bukit bukit karang menjulang tinggi di sebelah
kanan kami, disebelah kiri kami terhampar lautan luas berwarna biru (laut
jawa).
KEHABISAN BENSIN KEDUA KALI
Di satu tempat dalam perjalanan dipinggir laut tersebut,
terjadi lagi peristiwa Vespa kehabisan bensin. Nah ... kejadian ini lebih
serius dibanding kehabisan bensin yang lalu..Apa yang membuat serius? Karena
vespa tersebut mogok ditempat yang banyak monyet monyet. Mereka berlari larian
di jalan mencegat kendaraan yang lewat.. Ha ha pengalaman yang tak kan
terlupakan..
Sekali lagi terpaksa kami menggeret vespa, kali ini dengan
selendang gendong bayi yang sempat kami beli di pantai Kuta (sebetulnya untuk
oleh2), Celana panjang yang dulu kami pakai untuk narik vespa sudah tidak ada
lagi (ditukar dengan sate). Kami melewati monyet monyet yang terbengong bengong
melihat kelakuan kami.. Untuk mengusir monyet monyet itu kami berusaha nyanyi
lagu sekeras kerasnya.. Untunglah mereka tidak usil mengganggu kami.. dan
untung pula tak lama kemudian kami menemukan orang jual bensin eceran.. maka
selesai lah masalah nya.
MENENTUKAN PILIHAN DI JALAN BERCABANG DUA
Disatu tempat, kalau tidak salah setelah melewati satu bukit
yang di sebut dengan nama Bukit jambul oleh sahabat saya Kiki (karena bukit itu
seperti punya jambul semar), kami menemui jalan dihadapan kami bercabang dua,
kalau terus itu berarti kita akan melanjutkan perjalanan mengikuti pinggir
pantai, kalau belok kanan, maka akan menuju ke Kintamani. Kami belok ke
kanan..Entah apa yang membuat kami mendadak ingin ke Kintamani. Ternyata
jalanan menuju Kintamani lebih sempit dan penuh dengan belokan dan banyak
tanjakan /turunan. Kami jalan pelan pelan saja. Sempat pula kami berhenti
disebuah Pura Hindu di pinggir jalan.. Kami masuk dan ber foto foto hingga
puas. baru kali itu kami menyadari bahwa kalau mau masuk ke dalam Pura, atau
halaman Pura harus mengenakan kain. Tak terasa hari sdh hampir jam 13.00, cepat
cepat kami teruskan lagi perjalanan..
KETEMU RUMAH MAKAN PADANG
Ketika hampir sampai di Kintamani, kami merasa surprise
sekali karena kami menemukan sebuah rumah makan Padang dipinggir jalan.. Halaman
nya lebih tinggi dari permukaan jalan raya sehingga bangunan nya hampir hampir
tidak terlihat dari jalan, demikian pula plang nama nya menghadap ke sebalik
dari arah kami tiba.. Nyaris saja Rumah makan itu tidak terlihat oleh mata
kami. Kami mampir ke Rumah makan tersebut, kebetulan pula sudah melampaui am
nya makan (jam 14.00), maka makan lah kami sepuasnya di restoran tersebut.
Dari seorang pelayan di restoran itu kami dengar bahwa tak
berapa jauh dari tempat itu ada sebuah desa kecil dipinggir danau Batur,
penduduk di desa itu adalah orang jawa (keturunan tentara majapahit yang pernah
menyerang kerajaan Bali namun kalah perang dan melarikan diri). Desa itu
bernama TRUNYAN. Dan di desa itu punya ciri khas sendiri, yaitu orang yang
meninggal tidak di makam kan, melainkan dibiarkan tergeletak diatas tanah.
Pelayan rumah makan berkata "kebetulan saat itu baru ada yang
meninggal".. Saya tanya: "kapan meninggal nya" dia jawab
"sekitar dua minggu yang lalu". Kami semua mendengarkan dengan
takjub.. "Wah menarik sekali niih"..
Jam 14.30 kami berangkat ke arah TRUNYAN.. di satu tempat
bernama Penelokan, jalan bercabang dua.. kalau mau ke Trunyan harus mengambil
cabang yang kekiri..Tekad sudah penuh, maka kami ke kiri, ternyata jalan nya
menurun curam sekali menuju sebuah desa dibawah sana ke pinggir danau Batur,
Desa itu bernama Kedisan. Loh belum juga sampai ke Trunyan toh? yaa kami masih
harus nyebrang dari Kedisan ke Trunyan naik perahu. Disebuah warung di pinggir danau di Kedisan,
kami parkir motor, dan mencari perahu yang dapat mengantar ke seberang ke desa
yang bernama Trunyan.
BER PERAHU KE TRUNYAN
Beda dengan tahun tahun sekarang, para turis akan di antar
naik kapal motor besar ke Trunyan.. Tahun 1974 perahu yang akan mengantar kami
adalah perahu kecil yang di dayung oleh si empunya perahu. Satu perahu hanya
bisa membawa dua penumpang (tiga dengan si pendayung). Jadi kami sewa tiga buah
perahu.
Saya berdua Teddy diatas satu perahu.. Gatot dengan Kiki di
perahu yang lain, sedangkan si A dan si B di perahu ketiga. Sudah lumayan agak
sore saat itu, kira kira jam 15.00, Selama naik perahu dari Kedisan ke Trunyan,
saya terharu juga melihat si empunya perahu bernyanyi nyanyi sambil mendayung,
seperti orang kegirangan tak merasakan lelah padahal dia sudah mendayung sekuat
tenaga sedangkan kami merasakan perahu itu berjalan pelan di tengah danau.
Barulah kami menyadari setelah berada di tengah danau bahwa danau ini
dikelilingi oleh bukit bukit terjal. Rupanya sisa sisa perajurit Majapahit itu
sengaja memilih tempat di lokasi tersebut, karena pertimbangan tak mungkin
diserang dari belakang (Belakang nya semua bukit curam) kalau mau menyerang
Trunyan hanya bisa di lakukan naik perahu dari Kedisan.
MUNTAH DI TENGAH DANAU BATUR
Perjalanan mendayung dari Kedisan ke Trunyan makan waktu 25
menit. Kalau kita bantu mendayung mungkin bisa lebih cepat.. Tapi boro boro
membantu.. saya mabuk berat di atas perahu.. muntah muntah beberapa kali..Nah
itulah kelemahan saya.. saya tak tahan dengan ombak.. dan kalau sudah mual tak
bisa muntah seperti kebanyakan orang.. Kalau mau muntah, lambung saya terangkat
sakit sekali.. sampai saya meraung raung kesakitan. Kapok deh, saya baru tau
bahwa saya tidak tahan goyangan perahu nya..
TRUNYAN KENANGAN KU KEPADA MU
Setiba di Trunyan, saya buru buru naik ke darat.. bersyukur
saya sdh mulai enak karena tidak lagi merasakan goyangan perahu.. Saya ingat
betul, saya langsung ajak Teddy Rukmantara mencari warung di Trunyan.. entah
kenapa koq saya lapar padahal bukankah sebelum keTrunyan sudah makan di warung
Padang. Mungkin akibat dari muntah muntah ya ..
Tapi ternyata tidak ada warung.. ada nya sebuah dapur kotor
yang terletak di belakang sebuah rumah. Saya tanya kepada seorang perempuan
yang sedang ada didalam dapur tersebut, apakah dia bisa buatkan saya makanan,
nasi saja kalau ada, ditambah telor dadar.. Alhamdulillah, si wanita itu
mengangguk kepala. Tapi apa yang saya lihat akan membuat saya tercengang dan
takkan melupakan kejadian itu.. Wanita itu memecahkan dua buah telur di sebuah
piring.. lalu dia mengaduk aduk telur itu dengan tangan nya (bukan dengan garpu
atau sendok), padahal sebelumnya sudah menjadi perhatian saya bahwa tangan nya
itu kotor.. (buset).. Kocokan telur itu lalu di masukkan kedalam wajan yang
berisi minyak mendidih. Tak berapa lama kemudian jadilah telur dadar. Apa boleh
buat.. saya tetap makan dadar tersebut sebagai lauk nasi.. Teddy yang melihat
saya makan tak dapat menahan tawa.. Tapi ada satu hal yang membuat saya terharu
untuk kedua kali, Si wanita itu tak mau terima ketika saya sodorkan uang.
Oooalaah masih ada orang yang berbaik hati menolong dengan ikhlas. Teddy juga
pasti terharu dan masih ingat kejadian ini..
MAYAT DI TRUNYAN
Bagaimana mengenai mayat ? Yaa akhirnya kami melihat mayat
seorang wanita. Jenazah nya di dandani pakai kebaya dan kain. muka nya sudah
mulai rusak oleh belatung, tapi aneh nya tidak tercium sama sekali bau busuk
didekat situ.. nah itulah keanehan nya.. Tapi setelah tau, kami hanya bisa
manggut manggut aja, yang membuat tidak ada bau adalah karena mayat tersebut di
geletakan di bawah Pohon Kamper yang besar sekali. Supaya tidak di gondol
anjing (yang juga banyak di situ) maka mayat itu di kerangkeng pake pagar bambu
mirip kurungan ayam.
Perjalanan mendayung kembali ke Kedisan tak perlu di
ceritakan, karena saya sudah tidak muntah muntah lagi.. Setiba di Kedisan sudah
hampir maghrib. kami putuskan untuk menginap saja di Kintamani.. tadi di dekat
rumah makan Padang kami liat ada Home stay (losmen laah) yang lumayan besar dan
bersih.. Sudah mulai gerimis, maka cepat cepat kami pergi kami ke Losmen itu..
Ada beberapa orang bule nginap disitu.. Ketika sudah selesai makan malam. kami
memilih tidak pergi kemana mana karena gerimis sudah berubah jadi hujan. Kami
duduk ngobrol sama orang bule di sebuah meja panjang yang banyak kursi
nya..Udara di luar lumayan dingin (maklum Kintamani ada di kaki gunung). Bule
bule itu tertarik juga ngobrol dengan kami. Nah ini kesempatan dong mempraktek
kan kebisaan berbahasa inggris.. Laah mereka juga belum tentu berasal dari inggris..
jadi bahasa inggris bukan bahasa ibu mereka. betul saja omongan nya terdengar
peletak peletuk..
KENANGAN MANIS DI KINTAMANI
Satu hal yang sangat berkesan bagi saya malam itu adalah..
ketika sudah masuk kamar hendak tidur, koq ada suara gamelan terdengar dari
kejauhan. Merdu sekali ... sebentar jelas, sebentar hilang. Rupanya agak
dikejauhan dari losmen yang kami tiduri itu ada Banjar.. Biasanya di Banjar lah
masyarakat Bali berlatih gamelan, dan kebetulan malam itu sedang ada latihan
memainkan gamelan (biasanya sambil latihan menari).. Saya jadi ingat, di Bali
itu, Agama Hindu sudah sangat menyatu dengan kebudayaan dan kesenian... Maka
tak heran bila tak ada paksaan untuk berlatih.. Itulah sebabnya budaya
(kebiasaan) untuk memainkan Gamelan, sudah secara otomatis dapat bertahan turun
temurun..
Karena cuaca masih tetap hujan dan dingin, maka kami
putuskan untuk tidak menghampiri Banjar melihat latihan gamelan. Sebaliknya
kami malah tidur melingkar berselimutkan sarung dengan mulut tersenyum
mendengarkan alunan suling dari gamelan di kejauhan.
TUNGGU LANJUTAN NYA
Comments
Post a Comment