# 4 PENGALAMAN DI PANTAI KUTA
EPISODE 4
Kisah Perjalanan Naik Sepeda Motor Jakarta – Bali (1974)
PENGALAMAN DI PANTAI KUTA
Bangun pagi di penginapan (semacam losmen) di kota Denpasar,
hati rasanya berbunga bunga karena itulah hari pertama kami bangun pagi bukan
di rumah saudara, atau rumah teman, Kami bangun pagi di Losmen yang kami bayar,
Sudah ada kopi dan teh tersedia diatas meja di depan kamar. Dan pelayan losmen
setelah mengetahui bahwa kami sudah bangun, langsung mendatangi kami menyajikan
sarapan berupa roti maupun nasi goreng sesuai pesanan yang sudah kami sebutkan
dalam pesanan saat memasuki kamar malam sebelumnya.
Bali .. yaa Pulau Bali !! Saya baru saja meyakini diri
sendiri, bahwa pulau Bali lebih cocok
menjadi tempat wisata dibanding HAWAII. Turis yang datang ke Bali akan
mendapatkan kenikmatan yang lebih lengkap, di Bali ada MATAHARI, sedangkan di
Hawaii Cuma kadang kadang aja ada matahari. Selebih nya, di Bali ada gunung, ada
laut (pantai untuk berjemur badan dan bisa surfing), dan yang paling Utama, di
Bali ada kesenian (Gamelan dan tarian) ada kerajinan tangan (ukir2an) dan tak
lupa ada pemandangan sawah bertingkat tingkat yang indah.. Turis yang datang ke
Hawai hanya bisa berbangga walau cuma akan mendapatkan ombak untuk surfing dan
lagu Hawaian aja, pantai nya pun kalah dibanding pantai Kuta.. Pokok nya Bali
jauh lebih bagus daripada Hawaii. Disitulah saya mensyukuri bahwa saya terlahir
di Indonesia, di mana ada sebuah pulau yang bernama Bali, yang disebut sebagai
Pulau Dewata.
Setelah mandi, dan bersiap siap pergi, kami bertanya kepada
pelayan arah yang harus kami tempuh untuk pergi ke pantai Kuta. Kenapa pantai
Kuta yang di tanya? Karena pantai kuta sudah tersohor sampai ke seluruh dunia
sebagai tempat turis bule telanjang dada
berjemur di panas matahari. Maka tentu saja kami yang turis local harus
melihat nya. Mendengar keputusan kami
seperti itu, maka si A dan si B pun setuju dengan tujuan kami itu. Tak berapa
lama kemudian, kami pun pergi mengendarai tiga sepeda motor menuju pantai Kuta.
Perjalanan ke Pantai Kuta saat itu tentu beda dengan keadaan
zaman sekarang.. Saat itu Kuta dan Denpasar masih terpisah oleh jarak yang
terasa cukup jauh (kurang lebih 10 km). Jalanan nya masih sempit, dan masih
sepi, Masih banyak sawah di kiri kanan jalan yang berbelak belok (the long and
winding road). Sesekali saja kami berpapasan dengan kendaraan yang mengarah ke
Denpasar (saya jadi ingat bahwa saat itu paling paling kendaraan yang
berpapasan adalah Bemo). Bemo bemo itu lalu lalang ke arah Kuta maupun kearah
sebaliknya (Denpasar). Kebanyakan kendaraan tersebut sudah penuh isi nya dengan
turis. Seingat saya saat itu belum ada
sepeda motor sewaan..
Kami menikmati sekali suasana perjalanan ini.. Sepeda motor
tidak kami kebut, melainkan kami biarkan berjalan dengan santai.. si A dan si B
pun sudah mulai terbiasa menuruti sikap kami.. Kadang berjalan sebagai
pendahulu (didepan sekal), kalau sudah bosan di depan, mereka mempersilahkan
kami untuk mendahului dan berjalan di depan sebagai perintis. Begitulah suasana
kebersamaan kami saat itu. masing masing sepeda motor kebagian giliran menjadi
Perintis (jalan paling depan). Ternyata jalan menuju pantai Kuta itu hanya satu
itu saja, Seingat saya hanya mengikuti jalan raya Imam Bonjol saja, dan akan di
teruskan dengan jalan Raya Kuta. Tak ada belokan belokan yang akan
membingungkan kami.
Tahun 1974 pantai Kuta masih sepi.. Belum ada hotel
bertingkat, belum ada cottage di pinggir pantai, belum ada toko toko butik yang
menjual pakaian pantai warna warni.. Belum dikenal desa perluasan Kuta, yang
bernama Legian.. Pokoknya belum ada apa apa di KUTA, hanya ada satu jalan itu
saja. orang datang ke sana hanya untuk berjemur di Pantai, atau main surf
(Papan seluncur di air). Pertama kali sampai di Kuta, kami lihat ada seseorang
sedang berjalan di pinggir jalan.. "kemana pak kalau mau pergi ke pantai
Kuta?" dia menjawab "ikuti saja tembok berwarna biru ini sampai ke
ujung, di situ ada PANGKALAN BEMO, dan di dekat pangkalan itu ada pintu masuk
ke arah pantai". OO ternyata tembok biru ini adalah tembok yang menutupi
mata kami dari pandangan kearah pantai kuta, dibalik tembok ini ada pantai yang
terkenal itu..
Mengikuti arahan itu, kami pun kembali mengendari sepeda
motor sambil mata kami mencari cari bemo yang menurut perkiraan kami pasti
banyak nongkrong di pangkalan.. Kami sudah sampai ke ujung jalan tersebut, tapi
tak melihat ada bemo disitu.. koq disebut nya pangkalan bemo yaa? Tapi ada satu
pintu yang tak begitu besar, dari pintu tersebut kami bisa mengintip ada laut
biru indah dibelakang pintu tersebut. Naah didekat pintu tersebut lah akhir nya
kami temukan tulisan sebagaimana disebutkan oleh si pejalan kaki. ..Memang ada
tulisan "PANGKALAN BEMO:" tapi tidak ada bemo nya.. OO rupanya bemo
bemo yang kami liat lalu lalang di jalan tadi, membawa turis ke pangkalan
tersebut mereka tidak pernah mangkal terlalu lama, karena turis turis yang
ingin kembali ke Denpasar juga akan naik bemo dari pangkalan tersebut.
Kisah mencari tulisan "Pangkalan Bemo" itu sampai
sekarang masih teringat oleh saya karena sebagai orang yang biasa di Jakarta
rasanya aneh juga mendengar sebutan "Pangkalan Bemo". Biasanya yang
disebut pangkalan (terminal) kalau disitu banyak kendaraan umum yang siap
mengangkut penumpang.. , Sedangkan yang dinamakan Pangkalan Bemo di Kuta, waktu
kami mencari cari lokasi tersebut sama sekali tidak ada bemo nya.. beberapa
saat lagi baru lah kami lihat ada bemo, tapi Bemo yang mangkal di situ tak
pernah banyak, paling ada nya hanya dua atau tiga buah saja.
Masih teringat nya saya akan hal tersebut juga disebabkan
karena setelah lama kemudian saya beberapa kali dinas ke Bali, menginap di
hotel besar ( paling tidak pasti berbintang laah) dan biasanya di hotel
tersebut tersedia beberapa brosur tujuan wisata.. Saya coba mengambil satu
brosur dan melihat tujuan wisata pantai Kuta, di dalam brosur yang
memperlihatkan secara sederhana peta daerah Kuta.. pasti masih tertulis atau
digambarkan lokasi "Pangkalan Bemo" walaupun sebetulnya saat saya
datang tahun 2000 an, sudah tidak ada lagi Bemo wora wiri di daerah Kuta maupun
Bali.
Kembali ke Kisah saya,,seingat saya, saat itu kami bisa
membawa masuk sepeda motor kami melewati pintu masuk tersebut, tidak ada yang
menagih uang masuk kepada kami. Didalam sudah banyak turis turis berbaring di
pantai nya, maupun berenang di laut yang jernih. Pantai nya bersih tak ada
sampah sama sekali. Mengapa Kuta yang jadi sasaran turis?, karena pantai nya
itu cukup luas (laut nya cukup jauh dari daratan), dan pasir nya berwarna
putih, ditambah dengan pantai itu menghadap ke arah tempat matahari terbenam..
Itulah sebabnya turis dari banyak penjuru dunia, paling banyak
dari Australia (Seingat saya: belum banyak turis Jepang dan Korea saat itu) datang
ke sana selain untuk berjemur badan juga untuk menikmati suasana matahari
terbenam di pantai tersebut. Walaupun gelombang nya tak sebagus dibanding kan
laut di Hawaii, sudah lumayan lah bisa menarik turis ke pantai Kuta. Sudah
mulai ada anak anak muda lokal yang bermain SURF (Papan selancar) mengikuti
arus gelombang laut yang tak berhenti henti. Anak muda local tersebut menjadi
akhli main papan seluncur gara gara suka membantu para turis mengangkat papan
seluncur.. dan kemudian mencoba menggunakan papan seluncur langganan nya
tersebut, dan akhir nya pintar.. Ada
turis yang pulang ke negaranya mewariskan papan seluncur nya kepada pemuda
local tersebut.. maka betul betul lah si Pemuda local menjadi pelatih bagi
turis yang datang namun belum pernah main Surfing.. dan kadang2 pemuda local tersebut jadi dekat
dengan turis bahkan kadang jadi pacar nya.
Aah itu urusan mereka deh. Kami
hanya mau menikmati suasana pantai yang tersohor ke seluruh dunia tersebut.
Kami puas puas kan diri kami memperhatikan apa yang
dilakukan oleh turis2 tersebut di sana.. Duduk, Baring baring berjemur badan,
(belum banyak orang berjualan asongan di sekitar situ). Mereka yang sdh
kepanasan berjemur akhirnya pindah ke pinggir, baring baring di atas handuk
yang mereka bawa, sambil membaca buku, atau bahkan tak sadar sampai ketiduran
di pantai dibawah pohon nyiur yang melambai. Betul betul rasanya kami berada di
pantai untuk orang orang Nudis.. Ha ha bagi kami yang keenam nya adalah lelaki
yang masih puber, maka rasanya suasana di pantai Kuta yang seperti itu tidak
akan pernah membosankan.
Ketika tiba waktu nya untuk makan siang, kami berenam keluar
dari kawasan pantai, untuk mencari warung didekat dekat sana.. Betul saja
dugaan kami, tak ada Restoran Padang.. Maka kami pun masuk ke warung pinggir
jalan.. pilihan nya hanya nasi pakai telur dadar saja ditambah dengan sambal
kecap. Oya saya jadi ingat, bahwa saat itu belum ada pilihan makan super mie.
Setelah makan siang, kami kembali lagi ke pantai. Saya
ingat, ketika itu saya banyak sekali menghabiskan foto.. dan baru pulang
setelah puas ikut ikutan para turis menyaksikan turun nya matahari di telan
laut di ufuk belahan bumi sebelah Barat.. Kalau tidak salah ingat, kami dua
hari berturut turut menghabiskan waktu di Pantai Kuta. Untung lah kami belum
cek out dari Losmen di Denpasar. Total nya tiga malam kami menginap di Losmen
yang sama,
TUNGGU LANJUTAN NYA.
Comments
Post a Comment