# 3 SURABAYA DENPASAR
Kisah Perjalanan Naik Sepeda Motor dari Jakarta – Bali (1974)
(3) SURABAYA - DENPASAR
Saya tidak ingat lagi jam berapa kami berangkat dari rumah
Rahman di Surabaya mungkin jam 6.30 pagi. Yang saya ingat ialah Rahman sangat
mempersiapkan adik nya yang akan mengikuti petualangan kami.. Berkali kali
Rahman berpesan kepada saya untuk selalu memperhatikan adiknya.. Maklum lah adiknya
itu tiga tahun lebih muda dari kami (seingat saya ketika itu dia baru lulus SMA).
). Sayang nya sebelum berangkat kami tidak pernah bertemu dengan adiknya untuk
saling mengenal. Rahman hanya menanyakan apakah adiknya bisa ikut rombongan
kami, dan saya mengiyakan, padahal saya belum pernah bertemu dengan adiknya
tersebut.
Dan sebelum berangkat, sekali lagi saya mengiyakan pesan
Rahman untuk selalu memperhatikan adik nya. Rahman selama ini sangat baik
kepada saya, tidak mungkin lah saya tidak membalas budi baiknya. Diminta untuk
memperhatikan adiknya merupakan kesempatan baik bagi saya menunjukkan bahwa
saya menghormati Rahman dan menyukai keberadaan nya selama ini. Dengan ikut nya adik Rahman, kami semua menyadari
bahwa mulai saat itu kawanan kami bertambah, dan tanggung jawab kami bertambah.
Adik nya Rahman mengendarai sepeda motor merk Suzuki berdua dengan teman nya
(yang juga masih muda). Mereka akan mengendarai motor itu secara bergantian,
kasihan kalau adik nya Rahman harus nyupir sendirian tanpa pengganti.
BEDA SIFAT DAN BEDA KEBIASAAN
Setelah berpamitan, maka tiga buah sepeda motor meninggalkan
rumah Rahman. Baru saja mulai jalan, masih di dalam kota Surabaya, sudah mulai
terasa bahwa kawan baru ini kurang begitu pas dengan jiwa kami berempat. Kami
berempat sudah sejak lama bersama sama (sudah saling kenal secara lebih
mendalam). sedangkan adik nya Rahman, boro boro mengenal, ngobrol aja belum
pernah. Hanya Rahman memberi tau kami nama nya, dan keinginan adiknya itu untuk
ikut bersama kami. Aneh nya nama adik
nya itu tak teringat lagi oleh saya. Namun karena nama adiknya Rahman dan nama
teman nya.. akan sering disebut sebut dalam kisah perjalanan ini, maka baiklah
untuk seterusnya kita sebut saja Adiknya Rahman sebagai si A.. sedangkan teman
nya kita sebut si B.
Beberapa kali saya minta agar adik nya Rahman (si A) tidak
terlalu cepat mengendarai motor nya. Tapi tetap saja dia berjalan dengan
cepat.. "Oo dia tidak mau nurut ya?". Semula saya besarkan hati saya
dan berkata dalam hati "Aah sudah lah.. biarkan mereka berdua jalan duluan
Mungkin mereka masih terlalu bersemangat". Tapi ternyata memang begitulah
sifat kedua anak itu, lain dari sifat kami yang selalu saling memperhatikan
dengan teman seperjalanan.. kalau motor teman jauh tertinggal, kami akan
mengurangi laju kendaraan kami, demikian pula sebaliknya.. tapi ini si A dan si
B tidak pernah ada ingatan untuk menunggu. Itulah sebabnya selama perjalanan itu, kami
rasakan kurang bisa dekat di hati, dan sampai sekarang pun setiap kali saya
coba untuk mengingat ingat siapa sih nama adik nya Rahman.. tetap saja nama itu
tidak muncul muncul.
Perjalanan dari Surabaya ke arah timur berjalan lumayan
banyak masalah, dan masalah ini satu dan lain hal teryata disebabkan karena
kelakuan si A dan si B yang mengendarai motor suzuki tak mengindahkan
keberadaan kami.
VESPA KEHABISAN BENSIN
Kejadian pertama, motor vespa kehabisan bensin. Sebelum ada
sepeda motor suzuki, kami tak pernah alami kehabisan bensin. karena selama ini
kami selalu jalan berdekatan, dan bisa saling mengingatkan. Kami berempat sudah
tau bahwa VESPA memang lebih boros dibanding Honda soal bahan bakar. Setiap
kali melewati SPBU, saya selalu tanya kepada teman diatas motor Vespa, apakah
sebaiknya mengisi bahan bakar dulu, kalau tidak perlu maka kami akan terus
sampai SPBU berikut nya.. Nah ketika
kami sudah ketambahan satu motor Suzuki, kehabisan bensin VESPA terjadi karena
kami jadi tidak saling mengingatkan, tak sadar saya selalu ingin mengejar motor
suzuki.
Pertama kali saya lah yang merasakan ketidak hadiran motor
VESPA didekat kami.. "koq lama juga vespa tidak keliatan di
belakang".. Saya bisikan ke telinga Kiki (Johanes Kristianto), "yuk
kita tunggu (stop) dipinggir jalan, sampai vespa nya Teddy datang",
walaupun motor si A sudah jauh didepan biaarlah nanti kita susul kembali. Tapi
koq sang Vespa ga muncul2 juga.. Akhir nya saya dan Kiki kembali (tanpa memberi
tahu si A dan si B yang sudah jauh di depan), bagaimana mau memberi tau? wong
zaman itu kan belum ada HP. .. Waktu kami balik arah agak lama, kami temui
motor vespa sedang di parkir di pinggir jalan.. Teddy dan Gatot marah marah,
merasa kami meninggalkan dia..Setelah bisa menerangkan sebab musabab nya, maka
Teddy dan Gatot hilang rasa marahnya, Dan tak ada cara lain yang lebih efisien,
selain Vespa berikut kedua penumpang nya ditarik oleh Honda sampai ke pompa
bensin terdekat. . Celana panjang yang ada dialam ransel dipakai sebagai alat
untuk menarik Vespa ha ha .. geli juga kalau ingat kejadian itu.
VESPA TERGELINCIR MELEWATI REL KERETA TEBU
Kejadian kedua yang juga masih teringat dengan jelas didalam
kepala saya adalah kecelakaan kecil yang menimpa motor Vespa. Hal tersebut
terjadi ketika kami hampir sampai ke kota Situbondo, cuaca agak gerimis.. Dalam
keadaan seperti ini, saya sdh berpikir didalam hati.. bahwa hujan gerimis akan
membuat jalanan jadi licin. Dan di daerah Situbondo memang banyak rel kereta
lori. Mudah2an para sahabat tau ya bahwa yang dimaksud dengan kereta lori
adalah kereta pengangkut tebu, Rel nya dibuat seenak nya saja oleh pemilik
kebun tebu, tidak memperhatikan estetika sopan santun ketika menyeberangi jalan
(Atau mungkin lebih dulu ada rel untuk Lori daripada jalan raya?).. kalau
memang demikian maka orang yang bikin jalan raya laah yang kurang tau estetika
ya.. Saya perhatikan setiap kali menyeberangi jalan, maka REL itu melintas nya
itu tidak mengambil sisi 90 derajat, melainkan selalu mengambil sisi 60 atau 50
derajat bahkan adakala nya mencapai 30 derajat saja (arti nya menyimpang nya
itu miring hampir sejajar dengan jalan), tentu saja kalau ban sepeda motor yang
basah melewati rel itu akan terasa licin, apalagi untuk ban Vespa.
Betul saja, Vespa
tergelincir terkena Rel Lori yang melintang di jalan. Saat itu si suzuki sudah
jauh di depan, sedangkan saya dan Kiki yang berada di tengah antara vespa dan
Suzuki, merasa aneh koq Vespa sudah lama
tidak keliatan.. Akhirnya kami berbalik arah kembali mencari motor Vespa.. oo
dari kejauhan terlihat Teddy dan Gatot menunggu sambil mengetuk ngetuk body
Vespa yang barusan jatuh di jalan.. Untung saja tidak mengalami kerusakan parah..Rupanya
Teddy juga punya perasaan sama dengan saya, itulah sebabnya dia mengendarai
vespa nya extra hati hati. Setelah memeriksa tak ada kerusakan yang berarti,
akhir nya kami jalan kembali.
Perjalanan itu ternyata jauh dari perkiraan saya.. semula
saya pikir hanya 200 km jarak dari surabaya ke Banyuwangi. ternyata kami harus
menempuh 290 an kilometer. (oh itu kan salahnya sendiri tidak bawa peta, dan
tidak punya rencana yang matang). Seingat saya kami berenam sempat berhenti di
Pasuruan jam 10.30, maksud nya mau ngopi, tapi karena suara terbanyak bilang
minta makan.. akhir nya kami makan di sana..
PELABUHAN PENYEBERANGAN KETAPANG
Kami tiba di Ketapang jam 12.00 siang. Ketapang adalah
pelabuhan Ferry di pulau Jawa tempat kapal ferry menyeberang ke pelabuhan
Gilimanuk di pulau Bali. Lokasi Ketapang sedikit melampaui kota Banyuwangi.
Mendekati Banyuwangi ada jalan bercabang, kekanan adalah ke kota Banyuwangi,
sedangkan ke kiri adalah ke Ketapang.
Jadi kami tidak masuk ke Banyuwangi (padahal kepingin juga melihat kota
Banyuwangi yang dulu nya bernama Blambangan tersebut).
Karena tidak mampir di Banyuwangi maka tak berapa lama
kemudian kami sudah tiba di pelabuhan Ketapang.
Beruntung kami bisa segera mendapatkan kapal. menurut penjaga pelabuhan,
kapal ferry yang wora wiri di selat bali itu cuma satu, jadi kalau kami tidak
dapat kapal ini, berarti berarti kami harus nunggu sampai kapal itu balik
kembali ke ketapang (bisa berarti 2,5 jam PP). Alhamdulillah, ketika kami
sampai di Ketapang, kapal ferry tersebut sudah keliatan mau memasuki pelabuhan
Ketapang, tapi masih harus merapat dulu, menurunkan muatan dulu, setelah beres
urusan menurunkan mobil dan kendaraan lain serta penumpang dari Ferry ke Pelabuhan,
barulah kami dapat naik keatas. Proses turun naik ganti penumpang itu memakan
waktu kurang lebih 15 - 20 menit.
Selama kami menunggu itu, ada seorang bocah kecil mendekati
kami (mungkin usia nya belum lagi 10 tahun). Dia bertanya kepada saya yang
sedang duduk duduk di dekat sepeda motor.. "Om Plaat nomor nya B, dari
mana yaa?" Saya heran juga koq dia tidak tau bahwa Plaat Nomor B berasal
dari Jakarta. Maka saya balas bertanya : "Loh koq adik ga tau yaa plaat
nomor B berasal dari Jakarta"? Dia malah bertanya makin serius : " Om
kalau boleh tanya, Jakarta itu jauh yaa?". Kasian sekali deh.. Rupanya dia
belum belajar Ilmu Bumi di sekolahnya.. atau malah mungkin tidak sekolah.. Ini
betulan terjadi loh.. maka masih teringat sampe sekarang. Saya tak menyangka di
tahun 1974, dimana kami sudah naik motor sampai Bali, ternyata di daerah
pinggiran, masih banyak anak yang tidak sekolah..
Saat itu Pelabuhan penyeberangan Ketapang masih tak terlalu
sibuk.. Yang antre untuk nyebrang pun tak seberapa banyak. Waktu kapal yang
kami nanti nanti sudah bisa di masuki kendaraan, maka kami pun segera membawa sepeda
motor keatas kapal.. Setelah menempatkan motor di tempat nya, kami naik ke Dek,
tak lama kemudian Peluit Kapal dibunyikan, suara nya merdu sekali terdengar di
telinga kami.. "OO Yang Maha Kuasa diatas sana, akhirnya kau perkenankan
juga keinginan kami untuk nyebrang ke Pulau Bali". Tak lama kemudian kapal
mulai bergerak.. Selamat Tinggal pulau jawa.. kami menuju ke pulau Dewata..
Penyeberangan dengan Ferry hanya makan waktu satu jam saja.
Sepanjang pelayaran yang singkat itu, kami selalu gonta ganti memandang pulau
Bali, lalu balik memandang pulau Jawa. makin jauh pulau Jawa..makin dekat pulau
Bali. Koq tiba tiba saat itu saya jadi teringat kembali Ramalan (Jangka)
Jayabaya yang saya baca di harian Kompas ketika di Yogya. Di ramalan itu di
sebutkan bahwa tahun 1974 pulau Jawa akan terbelah menjadi dua.. Apakah ramalan
itu tidak meleset?, apakah yang akan terjadi kalau pulau jawa terbelah menjadi
dua?. Apakah kami bisa kembali ke pulau jawa? Apakah saya bisa kembali ke
Jakarta?
MENAPAK KAKI DI PULAU DEWATA
Gundah nya hati ini sirna, ketika kapal Ferry sdh mendekati
daratan pulau Bali, pohon pohon kelapa dan ketapang sudah semakin jelas
terlihat dari Ferry. Hmmm dari kejauhan
kami juga mulai dapat melihat bangunan bangunan dan Gapura2 ber nuansa Agama
Hindu dan akhirnya Ferry pun merapat di pelabuhan pendaratan. Turun dari kapal,
masih di Pelabuhan Gilimanuk, hal pertama yang kami lakukan adalah jingkrak, berlompat
lompatan, menginjak injakan kaki keatas tanah sambil berteriak girang..
"Kami sudah sampai di Bali Pulau Dewata".. Ternyata si A dan si B pun
baru pertama kali ini menginjakkan kaki nya di pulau Bali.
Sadar akan perbuatan kami yang agak aneh, kami berpandang
pandangan sambil melirik kiri dan kanan, jangan jangan ada orang memperhatikan
kami seperti orang gila.. Tapi ternyata tak ada yang memperhatikan kami, semua
sibuk dengan diri masing masing, Hanya anjing saja (yang banyak terlihat di
pelabuhan Gilimanuk) yang menghiraukan kegirangan kami tersebut. Mereka
mengerubungi kami, disangka kami membawa makanan. Ha ha ternyata para anjing
tersebut lah yang menyambut kedatangan kami.. Sekali lagi kami berteriak..
"BALI, HERE WE COME".. Tak berlama lama di Gilimanuk, kami segera
menaiki sepeda motor kami..menghentak tali gas sepeda motor kami menuju
Denpasar !!
WANGI BUNGA SEPANJANG PERJALANAN
Keluar dari pelabuhan Gilimanuk, rasa nya aneh.. saya baru
pertama kali naik sepeda motor di luar pulau jawa.. Dan ternyata jalan raya di
Pulau Bali saat itu rasa nya lebih mulus daripada jalan di pulau jawa. Yaa,
lebih mulus, hanya saja tidak selebar seperti di pulau Jawa, Dan satu hal yang
paling saya rasakan lain dari pada lain naik sepeda motor di pulau Bali adalah
sepanjang jalan saya mencium wangi bunga. Ternyata selidik punya selidik, wangi
bunga itu datang dari bangunan bangunan mirip Pura kecil yang ada disepanjang
pinggir jalan. Bangunan itu digunakan oleh masyarakat Bali di pinggir jalan untuk
mengirim sajian kepada para dewata sekali gus memohon kepada yang maha kuasa
agar mereka tetap diberikan keselamatan hidup di dunia..
Satu hal lagi yang masih teringat dengan jelas mengenai
perjalanan dari Gilimanuk ke Denpasar adalah, banyak nya anjing di jalan raya..
Hal itu membuat kami harus lebih berhati hati.. Saya perhatikan ternyata
Anjing-Anjing itu wajah nya mirip satu sama lain.. Ternyata Anjing Bali
tercatat sebagai Ras Anjing tersendiri di dunia.. arti nya tak pernah ber
asimilasi dengan anjing dari belahan dunia yang lain.
Gilimanuk – Denpasar berjarak kurang lebih 130 km, menyisir
pantai barat pulau Bali, melewati desa Negara dan desa Pulukan. Jarak tersebut kami tempuh dalam waktu 3 jam
karena saking senang nya melihat pemandangan indah di sepanjang jalan,
sebentar2 kami berhenti untuk potret2an. Tiba di Denpasar kurang lebih jam 16.30
, kami masih clingak clinguk seperti orang yang baru Coming From Deso.. (NDESO
banget). Banyak orang bule dimana mana
membawa tustel (kamera) motret ini motret itu. Di dekat kami sedang ada upacara
yang hampir selesai (di Bali memang banyak upacara).. Saya liat juga disekitar
situ ada rombongan yang sedang pawai membawa tumpukan buah, tumpukan makanan
diatas kepala nya..
MAKAN SATE PENYU
Ada yang berjualan di pinggir pinggir jalan.. OO itu
keliatan nya seperti orang sedang bakar Sate.. tapi setelah kami dekati,
barulah kami ketahui bahwa sate nya adalah sate Babi maka kami pun tak jadi
beli. Tapi tak jauh lagi dari situ ada orang bakar sate penyu.. naah disitulah
kami makan. Yang saya maksud dengan penyu di sini bukan lah binatang yang hidup
di dua alam.. melainkan penyu yang selalu ada di dalam laut, tak begitu besar
(cangkang nya sering di bikin hiasan di dinding2 rumah). Saat saya sedang makan sate penyu, barulah kami
menyadari bahwa kedepan, pasti kami akan kesulitan mencari makanan yang halal
di pulau Bali. Tidak semua daerah di pulau bali tersedia sate penyu. Lalu kami
harus makan apa ? Sapi di pulau Bali dianggap sebagai Hewan yang Suci (tak
pernah disembelih), satu satu nya harapan untuk mendapatkan makanan muslim
hanyalah di rumah makan padang.. Tapi setelah kami teliti, di Denpasar pun saat
itu nyaris tidak ada rumah makan Padang.. Padahal ketika kami berpikir seperti
itu, kami masih berada di Denpasar loh.. Di ibu kota Bali saja sudah susah
bertemu dengan Rumah Makan Padang. . Bagaimana nanti kalau kami sedang berada
di daerah terpencil ? Kemungkinan besar tidak akan ada restoran Padang. Yaa
sudah laah.. terserah aja nanti.. apa aja yang kita dapatkan dan bersifat
halal.. itulah yang akan kami makan.. singkong atau sayur2an tak jadi masalah.
Denpasar adalah kota yang ramai, mungkin semula ini adalah
PASAR.. maka kini dinamakan DENPASAR.. sebetulnya tidak banyak objek wisata
yang dapat dilihat di kota Denpasar. Namun koq aneh nya banyak turis yang
bermalam di Denpasar, Pertanyaan ini akan terjawab keesokan hari..
Mengingat hari sudah mulai gelap, akhirnya kami mencari
Losmen yang cukup murah di dalam kota Denpasar. Kami memesan tiga kamar, si A
dan si B tidur dalam satu kamar. Saya tidur bersama Kiki, sedangkan Teddy tidur
bersama Gatot. Apakah akan demikian terus menerus pembagian kamar selama kami
di Bali? Apakah tak pernah kami tidur sekamar dengan adiknya Rahman? Apakah
sampai segitu fanatik nya yaa?!! YAA NGGAK LAAH, gak fanatik koq.. malam itu
kami tak sampai berpkir sejauh itu.. Malam itu kami sudah terlalu bahagia,
karena kami sudah tidur di pulau Dewata.
TUNGGU LANJUTAN NYA DI EPISODE 3.
Comments
Post a Comment